Sabtu, 29 Agustus 2015

Nasehat ke 12, Dosa Kecil dan Dosa Besar

Nabi SAW bersabda, “Dosa kecil tidaklah dipandang kecil jika terus-menerus dilakukan, dan dosa besar tidaklah dipandang besar jika selalu disertai dengan memohon ampunan (beristighfar)”
           
Nasehat Nabi SAW ini tampaknya menjadi dasar dari nasehat hukama sebelumnya, bahwa dosa kecil yang terus menerus dilakukan tidak bisa dikatakan lagi sebagai dosa kecil. Tidak hanya sekedar tumpukan (volume) dosanya yang menjadi besar, tetapi ‘kehendak’ untuk terus melakukan dosa kecil itulah yang justru lebih besar dosanya, karena merupakan dosa batiniah (dosa hati). Apalagi kalau nantinya akan menyeret dirinya untuk melakukan dosa-dosa besar.
Namun dalam nasehat ini, Nabi SAW juga memotivasi umatnya untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah, walau mungkin ia tengah bergelimang dengan dosa-dosa besar, yakni dengan memohon ampunan Allah, selalu beristighfar tanpa henti-hentinya. Nabi SAW sendiri mencontohkan, beliau beristighfar kepada Allah 70 kali (dalam riwayat lainnya 100 kali) setiap harinya, walau beliau ma’shum (terjaga dari dosa).
Memang, salah satu keutamaan umat Nabi Muhammad SAW dibanding dengan umat-umat nabi sebelumnya adalah dalam masalah taubat. Kaum dari nabi sebelumnya, ketika melakukan suatu perbuatan dosa terkadang harus memotong (memutilasi) bagian tubuh yang berdosa tersebut. Terkadang mereka langsung disiksa dengan ditelan bumi, ditenggelamkan, atau dirubah wajahnya menjadi monyet. Bahkan harus membunuh dirinya sendiri (bunuh diri) untuk bisa diampuni dosa-dosanya.
Berbeda dengan mereka, pintu taubat bagi umat Rasulullah SAW selalu terbuka hingga masa yang sangat dekat dengan hari kiamat, yakni ketika matahari terbit dari arah barat. Saat itulah pintu taubat tertutup, dan tidak berarti lagi amal kebaikan, kecuali bagi orang-orang yang telah terbiasa melakukan amal kebaikan itu sebelumnya. Secara pribadi, pintu taubat itu tetap terbuka bagi kaum muslimin sampai saat yang sangat dekat dengan kematian, yakni ketika ruhnya belum sampai di tenggorokannya. Karena itu, bagi kita yang berdosa, siksaan itu ditangguhkan atau bisa jadi dihapuskan jika kita bertaubat dengan sungguh-sunnguh. Bahkan bagi mereka yang mungkin tidak bertaubat hingga kematiannya, masih ada harapan untuk memperoleh syafaat Rasulullah SAW di yaumul makhsyar, walau belum tentu semua orang memperolehnya.     
Bagi beberapa kaum nabi-nabi sebelumnya berlaku kaidah ‘dosa yang pertama dan juga yang terakhir kalinya’, yakni, begitu melakukan dosa yang sama untuk ke dua kalinya, maka tertutuplah pintu taubat dan ia telah menjadi ‘penghuni’ neraka, walau mungkin masih hidup di dunia. Ini berbeda dengan umat Nabi SAW dimana Allah masih selalu membuka pintu rahmat dan maghfirah-Nya, selama sang hamba mau memohon ampunan kepada-Nya walau ia berkali-kali jatuh pada dosa yang sama. Bahkan salah satu dosa terbesar yang mungkin akan sulit memperoleh syafaat pada hari kiamat kelak adalah dosa ‘berputus asa’ dari rahmat Allah. Yakni, ia beranggapan Allah tidak akan mau mengampuni dosa-dosanya yang selalu berulang-ulang dilakukannya, yang begitu banyak dan bertumpuk-tumpuk hingga layaknya memenuhi bumi dan langit

Note:ni9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar