Minggu, 09 November 2014

Nasehat ke 3, Masuk ke Kubur (Mati) Tanpa Bekal

Abu Bakar Ash-Shiddiq RA berkata, “Barangsiapa yang masuk ke kubur tanpa membawa bekal, maka seolah-olah ia mengarungi lautan tanpa bahtera.”

Walaupun alam kubur itu sifatnya ghaib, tidak dapat dilihat dan dirasakan dengan panca indra, tetapi hampir tidak ada dari kita yang tidak mempercayai keberadaannya. Alam kubur bisa dikatakan sebagai ‘tempat persinggahan’ sebelum alam dunia ini digantikan dengan alam akhirat setelah terjadinya kiamat kelak. Karena itulah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA menasehatkan agar kita mempunyai bekal ketika akan masuk alam kubur. Kalau kita mati tanpa membawa amal kebaikan, digambarkan beliau, seolah-olah kita mengarungi lautan tanpa bahtera.
Apa yang dinasehatkan Abu Bakar tersebut sejalan dengan apa yang disabdakan Nabi SAW, “Tidaklah mayit itu di dalam kuburnya, kecuali seperti orang yang tenggelam yang minta pertolongan!!”
Sekarang ini, dimana materialisme, konsumerisme dan hedonisme menjadi tolok ukur kehidupan, seolah-olah alam kubur itu diabaikan, walau tampak begitu ‘nyata’ di depan mata. Banyak di antara kita yang mengiring jenazah ke kubur, tetapi sama sekali tidak ‘merasa’ bahwa suatu saat kitalah yang ‘diusung’ dalam keranda dan diuruk dalam tanah, sendirian saja, lalu akan dibangunkan kembali untuk menghadapi pertanyaan kubur oleh malaikat Munkar dan Nakir. Tidak masalah jika kita mempunyai bekal amal kebaikan yang cukup, jika tidak bagaimana nasib kita di alam kubur?
Utsman bin Affan RA, sahabat dan juga menantu Rasulullah SAW, ketika ia menjadi khalifah selalu saja menangis ketika ada orang-orang yang menyebutkan sifat dan keadaan alam kubur, padahal ketika disebutkan sifat neraka dan kesengsaraan di yaumul makhsyar (kiamat), beliau tidak sampai menangis. Pernah salah seorang sahabat menanyakan hal itu, maka beliau berkata, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi SAW bersabda, bahwa alam kubur itu adalah pos (manzilah) pertama dari pos-pos (manazil) akhirat. Kalau seseorang selamat pada pos pertama itu (yakni di alam kubur), maka pos berikutnya akan lebih mudah daripadanya. Tetapi kalau ia tidak selamat di alam kubur itu, maka pos berikutnya akan lebih berat daripadanya!!”
Dalam riwayat lain disebutkan, Utsman berkata, “Bila aku berada di neraka, aku masih bersama manusia, begitu juga ketika aku harus menghadapi kesengsaraan di alam makhsyar. Tetapi ketika di alam kubur, aku hanya sendirian saja, tidak seorangpun yang menemani diriku…!!”
Sesungguhnyalah kekhawatiran beliau itu sangat tidak beralasan, karena amal kebaikan yang dijalankan dan shadaqah yang pernah dikeluarkan sudah lebih dari cukup untuk bekal di alam kuburnya, bahkan beliau salah satu dari 10 sahabat yang telah dijamin masuk surga. Setelah infaq yang beliau keluarkan untuk Perang Tabuk (Jaisyul ‘Usra), Nabi SAW bersabda, “Tidak ada yang membahayakan Utsman karena apa yang dilakukannya (diinfaqkannya) setelah hari ini!!”
Walau hanya persinggahan, di dalam kubur juga terdapat siksa dan nikmat kubur, tergantung bagaimana amal yang dilakukan sang jenazah ketika di dunia. Mereka yang amal kebaikannya hanya sedikit atau tidak ada sama sekali, mereka inilah yang digambarkan oleh Abu Bakar seperti orang yang mengarungi samudra tanpa bahtera, atau digambarkan Nabi SAW seperti orang yang tenggelam membutuhkan pertolongan. Bisa dibayangkan bagaimana berat dan sulitnya keadaan yang dihadapi oleh orang yang seperti itu. Kalau tidak karena pertolongan Allah, tentulah mereka ini tidak akan bisa selamat, kesengsaraan dan siksaan yang berat akan terus dialaminya di alam kubur hingga tibanya hari kiamat. Naudzubillahi min dzaalik!!
Nabi SAW bersabda, bahwa bila jenazah seorang mukmin dimasukkan ke dalam kubur (dan telah ditutupi/diuruki dengan tanah), maka datanglah dua malaikat penanya kubur, mereka mendudukkan mayat tersebut, dan sesungguhnya ia masih bisa mendengar suara sandal para pengantarnya meninggalkan pemakaman. Dua malaikat itu bertanya kepadanya, “Siapakah Tuhanmu, apa agamamu, dan siapa Nabimu?”
Ia akan berkata, “Allah Tuhanku, Islam agamaku, dan Muhammad Nabiku!!”
Dua malaikat itu berkata, “Allah meneguhkan dirimu, tidurlah dengan penuh sukacita!!”
Nabi SAW bersabda menjelaskan, “Itulah maksud dari firman Allah : Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh di dunia dan di akhirat (QS Ibrahim 27). Yakni, meneguhkan (orang mukmin) dengan ucapan yang benar (haqq), dan akan menyesatkan orang-orang yang menganiaya diri sendiri, yakni kaum kafirin dan dholimin, tidak memberikan pertolongan untuk bisa mengucapkan perkataan yang haqq..!!”
Dan ketika jenazah orang yang kafir atau munafik dimasukkan ke dalam kubur, dua malaikat itu akan bertanya , “Siapa Tuhanmu, apa agamamu, dan siapa Nabimu?”
Ia akan menjawab, “Aku tidak tahu!!”
“Engkau tidak tahu??” Kata dua malaikat itu, kemudian ia dipukul dengan batang besi, sehingga ia berteriak sangat kerasnya, dengan teriakan yang bisa didengar oleh semua mahluk di dunia, kecuali jin dan manusia.
Ada beberapa riwayat senada dengan penjabaran yang lebih lengkap, yakni ketika hamba mukmin sakaratul maut, beberapa malaikat menjemput dengan membawa kain sutera halus dan minyak wangi, untuk membawa nyawanya menghadap Allah. Para malaikat di setiap lapisan langit menyambut dan memuji-mujinya, dan setelah Allah menetapkan tempatnya di (surga) Illiyyin, ia dibawa kembali ke bumi, yakni ke kuburnya, kemudian bertemu dengan malaikat Munkar Nakir. Karena jawabannya benar, kuburnya diluaskan dan ditampakkan hamparan surga yang penuh kenikmatan. Kemudian datang seorang lelaki tampan dan berbau harum, yang ketika ditanya, ia menjawab, “Aku adalah amal salehmu selama di dunia!!”
Jika yang meninggal hamba yang kafir atau dholim, ketika sakaratul maut, beberapa malaikat berwajah hitam menakutkan menjemput, dengan membawa suatu cairan. Nyawa keluar dengan cara yang sangat menyakitkan. Malaikat mencelup nyawanya ke dalam cairan yang dibawanya sehingga baunya seperti bangkai yang busuk. Dan ketika dibawa naik, pintu langit tidak ada yang terbuka, dan turunlah ketentuan Allah bahwa ia tempatnya adalah di (neraka) Sijjin. Setelah itu nyawanya dilemparkan ke bumi, yakni ke kuburnya, kemudian bertemu dengan malaikat Munkar Nakir. Karena jawabannya tidak benar, kuburnya disempitkan dan ditampakkan kepadanya hamparan neraka, sehingga ia merasakan panas dan kesengsaraannya sebelum ia akan memasukinya nanti. Kemudian datang seorang lelaki jelek, berbaju jelek dan berbau sangat busuk, yang ketika ditanya, ia menjawab, “Aku adalah amal jelekmu selama di dunia!!”
Wallahu A’lam.


2 komentar:

  1. maqolah abu bakar tentang masuk kubur & hadits yg mengumpamakan mayyit dlm kubur itu ada di kitab apa ya?

    BalasHapus