Selasa, 26 Januari 2016

Nasehat ke 14, Mengenal Allah dan Mengenal Diri Sendiri



Seorang Ulama berkata, “Barang siapa yang mengira bahwa ia mempunyai penolong yang lebih utama (hebat) daripada Allah, maka ia hanya sedikit mengenal Allah. Dan barangsiapa yang mengira bahwa ia mempunyai musuh yang lebih kejam daripoda hawa nafsunya, maka ia hanya sedikit mengenal dirinya sendiri.”

            Tujuan utama dari diciptakannya manusia (dan juga jin) adalah untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana disitir dalam QS Adz Dzariyat 56. Tetapi dari masa ke masa, sedikit sekali manusia (dan juga jin) yang BISA mengaplikasikannya secara utuh. Sebenarnya hal ini tidak mengherankan karena sejak awal diciptakannya Nabi Adam AS, Iblis telah memproklamirkan dirinya untuk memusuhi beliau dan anak keturunannya. Ketika ia dilaknat Allah karena menolak untuk sujud (penghormatan) kepada Nabi Adam AS, ia bersumpah untuk menyesatkan manusia (dan juga jin) dengan segala macam cara dan dari segala arah, untuk memperoleh sebanyak-banyaknya teman di neraka, yang telah ditetapkan Allah sebagai tempat tinggalnya.        
            Perjalanan utama manusia adalah kembali ke tempat asal nenek moyangnya, yakni Nabi Adam AS yang ditempatkan di surga pada awal diciptakan. Dan tentunya tujuan yang lebih tinggi daripada itu adalah kembali kepada Allah, yakni ma’rifat kepada Allah. Tetapi perjalanan itu tidaklah mudah, karena di samping Iblis sebagai musuh, Allah juga membekali manusia dengan hawa nafsu demi untuk kelangsungan hidupnya, yang secara naluriah selalu ingin merasakan kesenangan yang segera dan sesaat. Susah sekali bagi kita mengajak hawa nafsu untuk ‘bersusah-payah’ mengikuti jalan ibadah menuju Allah dan mengabaikan kesenangannya, demi kesenangan dan kenikmatan abadi di akhirat kelak. Dunia dan segala gemebyarnya saat ini lebih memikat hawa nafsu kita daripada kesenangan yang sempurna tanpa batas di surga kelak.
Ketika Allah telah selesai menciptakan surga dan neraka, Allah berfirman kepada Malaikat Jibril, “Pergilah ke surga, dan lihatlah apa yang telah Aku persiapkan untuk penghuninya di sana!!”
Malaikat Jibril memenuhi perintah tersebut, dan beberapa waktu kemudian ia datang menghadap kepada Allah dan berkata, “Ya Allah, demi segala keagungan-Mu, tidak seorangpun yang pernah mendengar tentang surga tersebut, kecuali ia sangat ingin memasukinya!!”
Kemudian Allah memerintahkan seorang malaikat lainnya untuk menghiasi (menutupi) surga tersebut dengan hal-hal yang tidak disukai, dan berbagai macam perintah peribadatan yang harus dilakukan untuk bisa memasukinya. Setelah semua itu selesai, Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk sekali lagi melihat keadaan surga. Ketika kembali ke hadapan Allah, ia berkata, “Demi segala keagungan-Mu, ya Allah, aku khawatir tidak seorangpun yang akan mampu untuk memasukinya!!”
Setelah itu Allah berfirman lagi kepada Malaikat Jibril, “Pergilah ke neraka, dan lihatlah apa yang telah Aku persiapkan untuk para penghuninya di sana!!”
Malaikat Jibril memenuhi perintah tersebut, dan ia melihat api neraka itu saling menerkam sebagian atas sebagian lainnya. Beberapa waktu kemudian ia datang menghadap kepada Allah dan berkata, “Ya Allah, demi segala keagungan-Mu, tidak seorangpun yang pernah mendengar tentangnya, kecuali ia sangat ingin lari dari neraka tersebut!!”
Kemudian Allah memerintahkan seorang malaikat lainnya untuk menghiasi (menutupi) neraka tersebut dengan hal-hal yang disukai oleh nafsu syahwat, dan berbagai macam kesenangan lainnya yang terlarang secara syara’. Setelah semua itu selesai, Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk sekali lagi mengunjungi neraka. Ketika kembali ke hadapan Allah, ia berkata, “Demi segala keagungan-Mu, ya Allah, aku khawatir tidak ada seorangpun yang akan luput dari padanya, dan mereka akan memasukinya!!”
Dari sinilah sebagian ulama tersebut menasehatkan, bahwa musuh utama bagi seseorang itu bukanlah Iblis dan bala tentaranya, tetapi justru hawa nafsunya sendiri. Segala macam tipu daya dan perangkap Iblis, baik dari sisi gemebyarnya dunia ataupun dari sisi ibadahnya (dengan membuatnya tidak ikhlas), hanya bisa berhasil jika seseorang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya. Tanpa ‘memanfaatkan’ hawa nafsu yang memang jadi bagian yang utuh dari sisi manusiawinya, Iblis dan bala tentaranya dari syaitan, akan kesulitan dalam menyesatkan seseorang dari jalan fitrahnya, yang memang ingin kembali kepada Allah. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.
Dari masa ke masa, Allah SWT telah mengirimkan para Rasul-Nya untuk membimbing umat manusia agar ‘sukses’ kembali ke tempat asal, surga, hingga yang terakhir adalah junjungan kita, Nabi Muhammad SAW. Berbagai macam ibadah, baik yang sifatnya wajib ataupun sunnah, disampaikan kepada manusia agar memuluskan jalannya kembali ke surga. Tuntunan ibadah tersebut layaknya penolong bagi kita, untuk memerangi berbagai macam musuh yang merintangi jalan kita, termasuk penolong juga dalam mengendalikan hawa nafsu kita. Akan tetapi, sebagaimana nasehat sebagian ulama tersebut, penolong utama kita bukanlah berbagai macam ibadah yang telah kita lakukan, tetapi justru Allah SWT sendiri.
Ketika menafsirkan ayat ke lima dari QS Al Fatihah : Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (Kepada-Mu kami menyembah dan kepada-Mu kami mohon pertolongan), para ahli tasauf (ahli kerohanian Islam) menyatakan bahwa, sesungguhnya kita lebih membutuhkan pertolongan Allah dalam beribadah kepada-Nya. Sebab kalau tidak adanya pertolongan Allah, bagaimana kita bisa beribadah dengan benar, dengan ikhlas semata-mata mengharap ridho Allah? Harus diingat, Iblis begitu piawainya dalam memasang perangkapnya, sehingga suatu ibadah yang kita lakukan terkadang hanya untuk ‘memuaskan’ hawa nafsu dan  keinginan kita saja. Ibadah hanya menjadi sarana dan alat untuk ‘menodong’ Allah SWT agar kita memperoleh sesuatu, baik lahiriah ataupun batiniah (kejiwaan), yang sifatnya hanya sesaat menyenangkan hawa nafsu kita.
Oleh karena itu, orang yang benar-benar ma’rifat menyadari bahwa tidak ada musuh yang paling berbahaya kecuali hawa nafsunya sendiri, dan tidak ada penolong baginya yang paling utama kecuali Allah SWT. Pengakuan seperti ini pernah disampaikan oleh Nabi Yusuf AS, sebagaimana disitir dalam QS Yusuf ayat 53 : Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.           
           
Note:ni

Nasehat ke 13, Orang yang Ma’rifat dan Orang yang Zuhud



Seorang Ulama berkata, “Kemauan orang yang makrifat (Arif) adalah memuji sedang kemauan orang zuhud (Zahid) adalah berdoa, karena keinginan seorang Arif hanyalah pada (keridhaan) Rabb-nya, sedang keinginan seorang Zahid adalah pada (kemanfaatan) dirinya.” 

Dua kelompok kaum muslimin, kaum Arifin dan kaum Zahidin bisa dikatakan telah mencapai tingkat yang tinggi dalam keimanan dan ketakwaan, di atas umumnya kaum muslimin seperti kita. Bisa jadi secara amalan lahiriah dan ilmu keislaman kelihatannya tidak lebih baik (lebih banyak secara kuantitatif) dari ulama atau ustad yang kita kenali, tetapi keadaan hati mereka itulah yang memperoleh penilaian lebih di sisi Allah. Mungkin ini yang digambarkan oleh Rasulullah SAW ketika beliau memuji Abu Bakar RA di antara para sahabat lainnya, “Sesungguhnya Abu Bakar itu lebih baik daripada kalian bukan karena lebih banyak shalatnya dan puasanya, tetapi karena sesuatu yang ada di dalam hatinya…”   
Orang Arif adalah adalah orang yang telah mengenal (berma’rifat kepada) Allah dan selalu dalam keadaan mengingat Allah. Dalam beribadah kepada Allah, tidak ada lagi motivasi surga atau neraka, tetapi semata-mata karena cinta. Layaknya seorang yang sedang jatuh cinta, tidak ada yang paling disukainya kecuali hanya memuji dan mengagumi Dzat yang dicintainya. Dan tidak ada yang paling diharapkannya kecuali Allah akan ‘menerima’ cintanya dan melimpahkan keridhaan-Nya.
Orang yang zuhud adalah orang yang ‘berpaling’ dari hal-hal yang bersifat duniawiah. Tidak selalu orang yang fakir atau miskin, tetapi orang kaya yang tidak disibukkan dengan harta dan kehidupan dunianya termasuk dalam kaum zahidin. Nabi Sulaiman AS yang memiliki harta berlimpah dan kekuasaan besar, termasuk terhadap bangsa jin, binatang, bahkan angin, adalah seorang nabi yang zuhud. Tetapi yang paling terkenal kezuhudannya adalah Nabi Isa AS. Begitu zuhudnya beliau ini, sampai ketika Iblis menuduhnya masih ‘memiliki’ dunia karena tidur berbantalkan sebuah batu, beliau melemparkan batu tersebut dan tidak pernah berbantalkan apapun ketika beliau tidur. Sedangkan Rasulullah SAW, bukan hanya seorang nabi yang zuhud, tetapi juga yang paling ma’rifat kepada Allah SWT.
Orang yang zuhud bisa dikatakan sebagai orang yang sangat memahami makna istirja’, yakni kalimat ‘Inna lillaahi wainnaa ilaihi raaji’un” (Sesungguhnya kita ini milik Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya), sebagaimana disitir dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 156. Mereka menyadari bahwa hal-hal duniawiah akan menyulitkan atau bahkan jadi penghalang ketika akan kembali kepada Allah, karena itu mereka ‘memilih’ untuk berpaling darinya. Kalaupun ada bagian dunia yang dimiliki dan diupayakannya, semata-mata untuk bekal dan penolongnya dalam beribadah dan berdoa kepada Allah, sehingga meringankannya pada yaumul hisab kelak dan akhirnya ia memperoleh derajad yang tinggi di sisi Allah.   

Note:ni9,aks115

Sabtu, 29 Agustus 2015

Nasehat ke 12, Dosa Kecil dan Dosa Besar

Nabi SAW bersabda, “Dosa kecil tidaklah dipandang kecil jika terus-menerus dilakukan, dan dosa besar tidaklah dipandang besar jika selalu disertai dengan memohon ampunan (beristighfar)”
           
Nasehat Nabi SAW ini tampaknya menjadi dasar dari nasehat hukama sebelumnya, bahwa dosa kecil yang terus menerus dilakukan tidak bisa dikatakan lagi sebagai dosa kecil. Tidak hanya sekedar tumpukan (volume) dosanya yang menjadi besar, tetapi ‘kehendak’ untuk terus melakukan dosa kecil itulah yang justru lebih besar dosanya, karena merupakan dosa batiniah (dosa hati). Apalagi kalau nantinya akan menyeret dirinya untuk melakukan dosa-dosa besar.
Namun dalam nasehat ini, Nabi SAW juga memotivasi umatnya untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah, walau mungkin ia tengah bergelimang dengan dosa-dosa besar, yakni dengan memohon ampunan Allah, selalu beristighfar tanpa henti-hentinya. Nabi SAW sendiri mencontohkan, beliau beristighfar kepada Allah 70 kali (dalam riwayat lainnya 100 kali) setiap harinya, walau beliau ma’shum (terjaga dari dosa).
Memang, salah satu keutamaan umat Nabi Muhammad SAW dibanding dengan umat-umat nabi sebelumnya adalah dalam masalah taubat. Kaum dari nabi sebelumnya, ketika melakukan suatu perbuatan dosa terkadang harus memotong (memutilasi) bagian tubuh yang berdosa tersebut. Terkadang mereka langsung disiksa dengan ditelan bumi, ditenggelamkan, atau dirubah wajahnya menjadi monyet. Bahkan harus membunuh dirinya sendiri (bunuh diri) untuk bisa diampuni dosa-dosanya.
Berbeda dengan mereka, pintu taubat bagi umat Rasulullah SAW selalu terbuka hingga masa yang sangat dekat dengan hari kiamat, yakni ketika matahari terbit dari arah barat. Saat itulah pintu taubat tertutup, dan tidak berarti lagi amal kebaikan, kecuali bagi orang-orang yang telah terbiasa melakukan amal kebaikan itu sebelumnya. Secara pribadi, pintu taubat itu tetap terbuka bagi kaum muslimin sampai saat yang sangat dekat dengan kematian, yakni ketika ruhnya belum sampai di tenggorokannya. Karena itu, bagi kita yang berdosa, siksaan itu ditangguhkan atau bisa jadi dihapuskan jika kita bertaubat dengan sungguh-sunnguh. Bahkan bagi mereka yang mungkin tidak bertaubat hingga kematiannya, masih ada harapan untuk memperoleh syafaat Rasulullah SAW di yaumul makhsyar, walau belum tentu semua orang memperolehnya.     
Bagi beberapa kaum nabi-nabi sebelumnya berlaku kaidah ‘dosa yang pertama dan juga yang terakhir kalinya’, yakni, begitu melakukan dosa yang sama untuk ke dua kalinya, maka tertutuplah pintu taubat dan ia telah menjadi ‘penghuni’ neraka, walau mungkin masih hidup di dunia. Ini berbeda dengan umat Nabi SAW dimana Allah masih selalu membuka pintu rahmat dan maghfirah-Nya, selama sang hamba mau memohon ampunan kepada-Nya walau ia berkali-kali jatuh pada dosa yang sama. Bahkan salah satu dosa terbesar yang mungkin akan sulit memperoleh syafaat pada hari kiamat kelak adalah dosa ‘berputus asa’ dari rahmat Allah. Yakni, ia beranggapan Allah tidak akan mau mengampuni dosa-dosanya yang selalu berulang-ulang dilakukannya, yang begitu banyak dan bertumpuk-tumpuk hingga layaknya memenuhi bumi dan langit

Note:ni9

Nasehat ke 11, Dosa Kecil Tempat Persemaian Dosa Besar

Sebagian Ahli Hikmah (Hukama) berkata, “Janganlah meremehkan dosa-dosa kecil, karena dari situlah bersemi dosa-dosa besar”

Walau pada dasarnya dosa kecil dan dosa besar itu sama, yakni merupakan bentuk pelanggaran terhadap larangan-larangan Allah SWT dan Rasulullah SAW, atau pengabaian (tidak melaksanakan) perintah-perintah Allah dan Nabi SAW, tetapi berbeda dalam bentuk ampunan yang datang dari Allah. Dosa kecil akan ‘otomatis’ (seketika) diampuni oleh Allah ketika orang itu melakukan suatu amal kebaikan, semisal berwudhu, shalat, bersedekah, membantu saudara sesama muslim, dll-nya. Hal ini sejalan dengan apa yang disabdakan Nabi SAW, “Ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya menghapuskannya.”
Atau dalam redaksi lainnya, Beliau bersabda, “Sesungguhnya amal kebaikan itu menutup/ menghapuskan amal kejelekan.”
Tetapi dosa besar, semisal memusyrikkan Allah, durhaka kepada orang tua, meninggalkan shalat, minum khamr (miras, narkoba dan obat-obatan terlarang), memakan (menjalankan) riba, membunuh tanpa hak, berzina, dll-nya, belum akan diampuni oleh Allah sebelum ia bertaubat yang sungguh-sungguh (taubatan nashuha). Taubat nasuha ini harus diawali dengan penyesalan, kemudian harus ‘berhenti’ dari perbuatan yang menyebabkan dosa tersebut, diikuti dengan niat kuat untuk tidak mengulanginya lagi. Jika menyangkut dengan hak manusia lainnya, baik harta atau kehormatannya, maka ia harus mengembalikan atau meminta halalnya.
Namun demikian, seperti nasehat hukama di atas, kita tidak boleh meremehkan dosa-dosa kecil, merasa ringan dan enteng saja melakukannya hanya karena telah terbiasa berbuat amal kebaikan. Dosa-dosa kecil, jika sering dilakukan pastilah akan menjadi tumpukan (volume) yang besar. Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit, begitu istilah peribahasanya. Sedangkan amal kebaikan, walau sering sekali dilakukan, belum tentu akan menjadi tumpukan (volume) besar. Hanya amal kebaikan yang diterima oleh Allah saja yang bermanfaat, sedang syarat untuk diterima sangat berat, khususnya syarat batiniah yang bernama ‘ikhlas’.
Ketika seseorang telah telah dilingkupi oleh dosa-dosa kecil, tanpa sadar ia akan mudah terjatuh pada dosa-dosa besar. Apalagi tidak bisa dihindari, musuh utama kita, iblis dan anak buahnya, syaitan yang terkutuk, pastilah akan berupaya keras menutupi dosa-dosa kita, dan menghiasi serta meninggikan amal-amal kebaikan kita, sehingga tanpa sadar kita telah masuk perangkapnya. Kalau masuk perangkap dalam acara SUPERTRAP atau acara sejenisnya, hanya menjadi guyonan sesaat dan tidak berakibat fatal, tetapi jika masuk dalam perangkap Iblis dan syaitan (al ghurur, tertipu), kita akan menyesal seumur hidup, menjadi teman-temannya di neraka yang abadi, naudzubillahi min dzaalik.
       
Note:ni8iu7158

Rabu, 24 Juni 2015

Nasehat ke 10, Maksiat sambil Tertawa, Taat sambil Menangis

Sebagian Ahli Zuhud berkata, “Barangsiapa berbuat dosa sambil tertawa, maka Allah akan melemparkannya ke neraka dalam keadaan menangis. Dan barangsiapa berbuat taat sambil menangis, maka Allah akan memasukkannya ke surga dalam keadaan tertawa..!!”

            Pada dasarnya, barangsiapa melakukan perbuatan dosa dan ia tidak bertaubat, atau Allah tidak memberikan maghfirah kepadanya sampai ia menemui kematiannya, dan pada yaumul hisab ia tidak memperoleh syafaat, maka Allah akan melemparkannya ke neraka karena dosa-dosanya tersebut. Begitupun, barangsiapa melakukan perbuatan taat dan kebaikan, walau mungkin perbuatan taatnya itu tidak/belum sempurna, baik dari sisi lahiriah (tata aturan fiqihnya) atau sisi batiniah (misal tentang keikhlasannya, dll), tetapi Allah menerima amal perbuatannya tersebut, maka Allah akan memasukkannya ke surga karena ketaatannya tersebut.
            Apa yang dinasehatkan sebagian ahli zuhud tersebut adalah kondisi yang ‘keterlaluan’ dari seseorang. Seharusnya, seseorang yang bermaksiat itu menangis dan menyesal agar memperoleh ampunan dan maghfirah Allah. Tetapi ini tidak, justru ia tertawa dan ‘bersenang-senang’ ketika melakukan perbuatan maksiat, seolah membanggakan perbuatannya tersebut, seolah ia menantang siksa yang diancamkan Allah dan Rasulullah SAW, baik di dalam  Al Qur’an ataupun hadist Nabi SAW. Dan di zaman akhir hal itu banyak terjadi, bahkan juga dilakukan oleh orang-orang yang mengaku (ber-KTP) beragama Islam.
            Tertawa adalah hal manusiawi sebagai ungkapan perasaan yang wajar terjadi karena beberapa kondisi. Tetapi tertawa ketika melakukan perbuatan maksiat (dosa) seharusnya tidak terjadi, bahkan untuk sesuatu hal yang mubah saja, terkadang Nabi SAW melarang untuk tertawa yang berlebihan. Suatu ketika Beliau SAW berangkat ke masjid dan di perjalanan mendapati beberapa orang sedang berkumpul sambil berbincang dan tertawa terbahak-bahak Beliau menghampiri mereka dan mengucap salam. Setelah mereka membalas salam, beliau bersabda, “Perbanyaklah kalian mengingat sesuatu yang ‘memutuskan kelezatan’ (haadzimil ladzdzaat)!!”
            Salah seorang sahabat berkata, “Apakah haadzmil ladzdzaat, ya Rasulullah??”
            Nabi SAW bersabda, “Al Maut (yakni, kematian)!!”
            Seketika para sahabat tersebut terdiam, dan Nabi SAW meninggalkan majelis mereka. Belum jauh berjalan lagi, beliau melihat sekumpulan sahabat lainnya juga tengah berbincang-bincang dengan tertawa-tawa. Beliau segera menghampiri mereka dan mengucap salam. Setelah mereka menjawab salam, beliau bersabda, “Ingatlah, demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya kalian mengetahui sebagaimana apa yang aku ketahui, tentulah kalian akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis!!”
            Para sahabat itu seketika terdiam, tidak lagi tertawa-tawa seperti sebelumnya. Nabi SAW berpamitan meninggalkan mereka, yang tenggelam dalam tafakkur masing-masing, merenungi perkataan Nabi SAW tersebut. Tetapi belum jauh beliau berjalan, ada lagi sekumpulan sahabat yang berbincang sambil tertawa-tawa juga. Nabi SAW menghampiri mereka dan mengucap salam. Setelah mereka menjawab salam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Islam itu pada mulanya asing, dan nanti akan kembali menjadi asing ketika (telah dekat saat) hari kiamat!! Maka, beruntunglah bagi orang-orang yang asing pada (saat dekat) hari kiamat nanti.”
            Salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang asing pada (saat dekat) hari kiamat tersebut??”
            Beliau bersabda, “Yaitu orang-orang yang apabila masyarakat berada dalam kerusakan, maka orang-orang itu berusaha untuk memperbaikinya!!”
            Kembali pada nasehat ahli zuhud di atas, seseorang yang telah melakukan ketaatan sudah sepantasnya kalau ia bergembira, karena telah memenuhi kewajiban yang dibebankan kepadanya atau menghindari larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya. Tetapi pada kondisi yang ‘keterlaluan’ (dalam arti lebih baik), seseorang itu justru menangis setelah melakukan ketaatan, baik karena alasan/kondisi lahiriah, terlebih lagi karena kondisi batiniah. Walau badan fisiknya telah beribadah misalnya, tetapi ia merasa masih banyak kekurangan dalam sikap batiniahnya. Pikirannya melayang-layang entah kemana tidak tertuju kepada Allah, tidak sepenuhnya ikhlas tetapi masih ada motif-motif duniawiah dan juga pujian mahluk lainnya, makanan dan pakaiannya masih mengandung hal-hal yang haram atau syubhat, bahkan sedikit sekali atau tidak ada dari bagian halalnya, dan lain-lainnya, yang biasanya menyangkut adab (tata-krama) batiniah. Semua itu membuatnya menangis setelah melakukan ketaatan kepada Allah.
            Seperti halnya tertawa, menangis merupakan ungkapan dan luapan perasaan yang sifatnya manusiawi. Bukan hanya karena kesedihan dan musibah, terkadang ketika seseorang merasakan kegembiraan dan kesenangan yang luar biasa, justru ia menangis tanpa ia bisa mengontrol dan menghentikannya. Baru setelah perasaanya mereda, tangisan karena kegembiraan bisa dikuasainya (dihentikannnya).
Menangis ketika melakukan kebaikan dan ketaatan, atau ketika tafakkur kepada Allah adalah sesuatu yang luar biasa, bahkan ada pahala dan derajad tersendiri karena tangisan tersebut. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada air mata yang berlinang (karena takut kepada Allah), melainkan Allah mengharamkan neraka untuk membakarnya. Dan apabila air mata itu menetes pada wajah orang itu, maka wajahnya tidak akan tertutupi debu hitam dan tidak juga kehinaan (pada hari kiamat kelak). Tidak ada suatu amal kebaikan kecuali ia akan memperoleh pahala selain (yang bukan) pahala air mata tersebut, karena sesungguhnya air mata itu dapat memadamkan lautan-lautan api neraka. Dan seandainya ada seseorang yang menangis di tengah-tengah suatu umat karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan mengasihani umat itu karena tangisan orang tersebut.
 .         
Note:ni8,tg1-318,tg2-411

Nasehat ke 9, Maksiat karena Nafsu dan Kesombongan

Sufyan ats-Tsauri rahm berkata, “Setiap maksiat yang timbul dari syahwat, dapatlah diharapkan ampunannya. Tetapi kedurhakaan yang timbul dari sikap sombong tidak dapat diharapkan ampunannya, karena kedurhakaan Iblis berpangkal dari kesombongan, sedang kesalahan Nabi Adam AS berpangkal dari syahwat.”

Dosa dan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia dapat dibagi dua, yakni dosa yang diakibatkan oleh perbuatan lahiriah, dan diakibatkan oleh perbuatan hati (batiniah). Dosa lahiriah terjadi karena seseorang melanggar/mengerjakan apa yang dilarang oleh hukum agama (Fikih Islam), atau meninggalkan/melalaikan apa yang diperintahkan dalam hukum agama (Fikih Islam). Sedang dosa batiniah terjadi karena melakukan suatu perbuatan yang melanggar/menyimpangi akidah dan akhlak (tata krama), walau mungkin secara logika tidak salah dan tidak tampak secara lahiriah.
Dosa lahiriah misalnya adalah tidak shalat fardhu, tidak berpuasa Ramadhan, menyakiti orang tua, riba, berzina, membunuh orang tanpa hak, minum arak atau sejenisnya, dan lain-lainnya. Dosa batiniah misalnya bersikap hasad dan dengki, riya dan sum’ah, mendendam, dan banyak lainnya, serta dosa ‘tertua’ yang dilakukan iblis, kesombongan.
Sebagaimana nasehat Sufyan ats Tsauri rahm (Rahimatullah) tersebut di atas, orang yang berdosa secara lahiriah semisal memperturutkan nafsu syahwat, baik syahwat perut seperti Nabi Adam AS ketika makan buah pohon kayu (Iblis menyebutnya buah khuldi, buah keabadian di surga), atau syahwat lainnya, masih mudah diharapkan ampunannya. Setelah melakukan dosa tersebut, selalu ada di suatu saat atau di suatu tempat atau di suatu kesempatan dan kondisi, hati nurani (umum menyebutnya hati kecil) orang tersebut akan mengingatkan perbuatan dosanya itu dan mendorongnya untuk meminta ampunan kepada Allah. Hanya saja pertarungan antara nafsu dan hati nuraninya yang menentukan, apakah ia akan ‘mengikuti’ peringatan tersebut atau tidak.
Sementara dosa batiniah, seperti kesombongan Iblis dan Fir’aun misalnya, sulit sekali seseorang itu menyadari kalau sedang melakukan suatu perbuatan dosa. Ketika Iblis menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam AS, ia berdalih bahwa dzat penciptaannya, yakni api lebih baik daripada dzat penciptaan Nabi Adam AS, yakni tanah liat. Apalagi saat itu status dan derajad Iblis, yang saat itu masih bernama Azazil (nama Iblis disematkan setelah Azazil mendapat kutukan Allah), melebihi para malaikat. Para malaikat mengagumi kesalehan dan ketekunan ibadahnya, kepandaian dan tingkat ma’rifatnya sehingga memperoleh derajad yang tinggi dan kedekatan (taqarrub) kepada Allah melebihi mereka semua. 
Azazil sebenarnya dari golongan jin, tetapi bisa dikatakan ia jin yang zuhud (pertapa) dan saleh, yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah SWT. Ketika kaumnya dari bangsa jin banyak berbuat kerusakan di muka bumi, ia makin gencar beribadah dan taqarrub kepada Allah. Ia pun dinaikkan ke langit bumi (samaa’ad-dunya), dan dengan makin tekunnya beribadah, ia terus naik ke lapis-lapis langit berikutnya, hingga dekat dengan singgasana Allah, dan mendapat kepercayaan menjaga kunci-kunci surga. Diperlukan ribuan tahun, sebagian riwayat menyebut 80 ribu tahun dalam peribadatan tanpa terputus, hingga Azazil memperoleh derajad yang seperti itu. Dalam keadaan seperti itu, Allah memerintahkannya untuk bersujud kepada Nabi Adam AS yang baru saja diciptakan, dan timbullah kesombongan dalam hatinya, hingga menolak perintah Allah tersebut. Kata ‘Ana khoirun minhu’ (saya lebih baik daripada dia) yang diucapkannya, mungkin tidak hanya mewakili dzat penciptaannya saja, tetapi juga berbagai kelebihan lain yang dimilikinya. Bisa jadi banyaknya ibadah, ma’rifatnya kepada Allah, ketinggiannya di antara malaikat, keilmuannya dan lain sebagainya.
Dosa-dosa batiniah itu terkadang tidak muncul (terekpresikan) dengan nyata, bahkan yang terlihat kebalikannya. Bisa jadi seseorang terlihat khusyu dan tawadhu’ tetapi hatinya dipenuhi kesombongan (kibr), ujub dan syum’ah. Mungkin ia terlihat sangat dermawan, tetapi sebenarnya hatinya bakhil, pemberiannya dimotivasi oleh ketamakan, memperoleh hasil (harta) yang lebih banyak, penghormatan, derajad/jabatan dan pujian dari orang lain. Karena itulah seseorang yang mengidap ‘dosa batiniah’, terkadang merasa tidak bersalah, sebaliknya mengaku telah berbuat kebaikan sebagaimana diperintahkan agama. Semua itu terjadi karena ia kurang ‘teliti’ dalam mengamati niat dan motivasi hatinya, sehingga keikhlasannya dalam berbuat dan beramal sangat sedikit, atau bahkan sama sekali tidak ada.
Pada zaman Nabi Musa AS, Iblis sempat terbersit untuk taubat. Mungkin ia teringat akan masa-masa sebagai Azazil yang begitu tekun dan ‘asyik’ beribadah kepada Allah, sebagaimana dilakukan oleh Nabi Musa dan Nabi Harun beserta sebagian umatnya. Karena itu Iblis menemui beliau dan meminta tolong untuk menanyakan kepada Allah SWT, apakah kalau ia bertaubat saat itu akan diterima. Maka Beliau AS mendaki ke bukit Thursina untuk menyampaikan pertanyaan Iblis tersebut, dan Allah menjanjikan menerima taubatnya, dengan syarat ia mau bersujud di makam Nabi Adam AS. Begitu Nabi Musa AS menyampaikan syarat taubatnya tersebut, muncul lagi kesombongan Iblis. Ia berkata, “Ketika masih hidup saja aku tidak sudi bersujud kepadanya, apalagi sekarang ini ketika ia telah mati  dan terkubur di dalam tanah…!!”
      
Note:ni7ts42

Jumat, 09 Januari 2015

Nasehat ke 8, Modal Takwa dan Modal Dunia

Al-A’masyi rahm berkata, “Barangsiapa yang modal pokoknya takwa, maka lidah-lidah akan kelu menyifati keuntungan agamanya. Dan barangsiapa yang modal pokoknya adalah dunia, maka lidah-lidah juga tidak mampu menjumlahkan kerugian agamanya.” 

Kehidupan ini layaknya sebuah perniagaan yang menjanjikan sebuah keuntungan, baik keuntungan jangka pendek ataupun jangka panjang. Hanya saja, kebanyakan orang tertipu, baik oleh godaan syaitan atau hawa nafsunya, untuk mengejar keuntungan jangka pendek saja (yakni kesenangan duniawi) dan melalaikan keuntungan jangka panjangnya (yakni kesenangan akhirat). Padahal hakikat penciptaan manusia (dan juga jin) di bumi ini agar mereka bisa memetik dan menikmati kesenangan hidupnya yang abadi di akhirat, sebagaimana Firman Allah dalam QS adz-Dzaariyaat 56 : Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
Berbeda dengan mahluk Allah lainnya seperti hewan, tumbuhan, alam semesta dan lain-lainnya, termasuk malaikat, manusia dan jin memang diberikan ‘kebebasan’ bertindak dalam mengisi kehidupannya. Walau pada dasarnya diciptakan untuk beribadah kepada Allah, tetapi dalam batas-batas tertentu, mereka diberikan kemampuan untuk memilih dan ‘memanajemen’ apa yang mereka ‘kehendaki’ di dunia ini. Hanya saja pilihan apapun yang mereka lakukan, mereka akan mendapat konsekuensinya, yakni balasannya. Dan balasan yang sesungguhnya itu adalah di akhirat. Bisa saja seseorang itu seolah-oleh memperoleh hasil dan balasan yang baik dan melimpah di dunia, tetapi sebenarnya hanya kerugian besar di akhirat. Sebaliknya, ada orang yang merasakan kerugian dan kesengsaraan besar di dunia, tetapi sebenarnya ia bakal memperoleh keuntungan dan hasil (balasan) yang tidak terkira besarnya di akhirat kelak.
Karena itu sebagaimana nasehat al A’masyi (rahimahullah) tersebut di atas, jika manusia (dan juga jin) menjalankan ‘perniagaan’ hidupnya dengan modal pokok ketakwaan, yakni selalu mengisi dan ‘menjalankan perniagaannya’ dengan ibadah demi ibadah kepada Allah, maka ia akan memperoleh keuntungan agamawi yang tidak terkira. Tentu saja jika ia melaksanakan semuanya itu semata-mata untuk memperoleh keridhaan Allah dan balasan terbaik di akhirat. Kalaupun ada ‘balasan’ duniawi yang diterimanya, ia tidak terpengaruh dan tidak terlalaikan dari tujuan akhiratnya, apalagi sampai tenggelam menikmatinya. Ia akan terus bersabar menjalankan ibadah dan penghambaan kepada Allah, sampai Allah akan ‘memanggil’-nya dengan penuh kasih sayang, “Wahai jiwa yang tenang (an nafs al muthmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya, maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku…!”
Sebaliknya, jika manusia (dan juga jin) menjalankan ‘perniagaan’ hidupnya dengan modal pokok duniawi, maka sebagaimana nasehat al A’masyi tersebut, maka ia akan mendapat kerugian agamawi, yakni kerugian akhirat, yang tidak terkira besarnya. Bisa saja kelihatannya ia mendapat keuntungan dan kesenangan hidup yang begitu besar, tidak terukur dan seakan tidak ada habis-habisnya. Tetapi begitu ia memasuki alam kubur (walau mungkin jasad fisiknya tidak terkubur di tanah), ia mulai merasakan kerugian dan kesengsaraan yang sebenarnya. Bisa saja jasad fisiknya dikuburkan dalam pemakaman yang indah dan mewah laksana taman surga, bahkan juga dituliskan kata-kata ‘Istirahat dalam Kedamaian’ pada nisannya, dan berbagai tulisan indah dan menyejukkan lainnya. Tetapi sebenarnya, tidak sampai dua tiga meter di bawahnya, ia tengah merasakan beratnya ‘siksaan kubur’, yang tentunya belum seberapa jika dibandingkan dengan kesengsaraan di akhirat kelak, yakni di dalam neraka.

Note:ni7