Buku ini berisi butir nasehat yang dikutip dari Kitab Nashoihul Ibad oleh Syeh Nawawi bin Umar al Bantani al Jawi, yang sebenarnya merupakan syarah dari rangkaian nasehat yang disusun oleh Ibnu Hajar al Asqolani al Mishri, penyusun Kitab Fathul Bari (syarah Shahih Buchori) yang fenomenal itu. Penjelasan dikutip dari berbagai kitab lainnya. Semoga bermanfaat, dan membuat kita makin taqarrub kepada Allah SWT.
Selasa, 09 Mei 2023
Senin, 08 Mei 2023
Rabu, 03 Mei 2023
Kamis, 20 Oktober 2016
Nasehat ke 16, Syahwat dan Sabar Bisa Mengubah
Seorang
Ulama berkata, “Sesungguhnya syahwat itu bisa mengubah raja menjadi hamba, dan
kesabaran itu bisa mengubah hamba menjadi raja. Bukanlah engkau telah melihat
kisah Yusuf dan Zulaikha.”
Syahwat adalah kesenangan nafsu
yang segera dan sesaat, yang seringkali melupakan bahaya dan kemelaratan yang
bisa terjadi setelahnya, baik dalam jangka pendek atau jangka panjang. Sedang
kesabaran adalah ketabahan, kesediaan untuk mengalami kesusahan dan beratnya
perjuangan, meninggalkan berbagai kesenangan, untuk bisa mewujudkan apa yang
dicita-citakan. Kita mengenal suatu peribahasa yang menggambarkan kesabaran,
yaitu : Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu
bersenang-senang kemudian.
Orang yang menyukai sesuatu dan
berharapan untuk memilikinya, maka ia akan menjadi hamba sesuatu itu. Tentunya
tidak masalah jika sesuatu itu adalah kesenangan abadi, kenikmatan akhirat
sebagaimana dijanjikan Allah SWT dan Rasulullah SAW, karena hal itulah yang
justru diperintahkan, meletakkan kecintaan yang utama kepada Allah dan
Rasulullah SAW. Dan ini bisa dikatakan sebagai kesabaran yang sebenarnya, tidak
sekedar sabar untuk memperoleh derajad dan keuntungan di dunia, walau sebagai
seorang raja sekalipun.
Jika sesuatu yang menjadi kecintaan
adalah kesenangan syahwat, maka ia benar-benar menjadi seorang hamba, seorang
budak semata walau secara lahiriah ia bergelimang dengan harta kekayaan dan
jabatan tinggi, bahkan sebagai seorang raja. Semua kesenangan itu hanya sesaat,
segera setelah nyawanya dicabut Malaikat Izrail dan memasuki alam kubur, hanya
kesengsaraan yang akan dialaminya. Bahkan tidak jarang ia tidak bisa menikmati
kesenangan duniawiah yang telah dikumpulkan dan diupayakannnya karena berbagai
penyakit yang dideritanya.
Dalam kisah Nabi Yusuf AS ketika
masa remajanya di Mesir, beliau hanyalah seorang budak di rumah seorang
pembesar kerajaan yang bernama Qithfir. Istri Qithfir yang bernama Zulaikha,
seorang putri jelita dan berkedudukan tinggi, ternyata terpikat oleh ketampanan
dan kemudaan beliau. Tidak sekedar terpikat, Zulaikha juga memperturutkan
godaan syahwatnya untuk bisa memiliki dan ‘bersenang-senang’ dengan Yusuf,
bahkan tidak segan untuk ‘menjebak’ beliau dalam suatu kamar tertutup. Tetapi
Allah melindungi beliau sehingga tidak terjatuh dalam jebakannya. Zulaikha
sempat berdalih bahwa semua itu adalah keinginan Yusuf, tetapi akhirnya Qithfir
mengetahui bahwa istrinya yang bersalah, dan rusaklah namanya di mata suaminya
itu.
Ketika kaum wanita di Mesir
mengetahui tipu daya yang dijalankan Zulaikha, merekapun mencemoohkan dirinya,
hingga makin jatuhlah namanya dalam pandangan masyarakat Mesir. Walau kemudian
ia bisa membalaskan dendamnya dalam suatu skenario ‘jamuan buah dan pisau
tajam’ sembari menampilkan Yusuf di antara wanita-wanita itu, tetapi citra
dirinya sebagai wanita terhormat tidak serta merta tertolong.
Akan halnya Nabi Yusuf, walau pada
dasarnya beliau tidak bersalah, tetapi statusnya sebagai budak membuat beliau
tetap saja menjadi ‘terdakwa’ dalam kasus tersebut. Tidak ada pilihan kecuali
beliau harus bersabar, kesabaran yang bisa dikatakan telah menjadi ‘keseharian’
beliau sejak masik anak-anak, karena kedengkian saudara-saudaranya. Bahkan
ketika beliau harus masuk penjara setelah skenario yang dijalankan Zulaikha
terhadap wanita-wanita di Mesir itu, beliau menjalaninya dengan penuh
kesabaran. Dan justru dari penjara inilah akhirnya beliau menjadi pembesar
kerajaan hanya karena impian sang Raja Mesir. .
Note:ni11,qa37
Nasehat ke 15, Jika Lisan dan Hati Rusak
Abu
Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Daratan adalah lisan dan lautan adalah hati.
Apabila lisan rusak, maka pribadi-pribadi manusia akan menangisinya, dan
apabila hati yang rusak, maka para malaikat yang akan menangisinya…!”
Ketika Abu Bakar Ash Shiddiq RA
membaca Al Qur’an dan sampai pada ayat ke 41 dari surat Ar-Rum, yakni : “Telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Maka beliau berkata
seperti tersebut di atas, seolah-olah memberikan tafsiran sesuai dengan
pandangan dan pemahaman beliau.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dari
tahun ke tahun hingga masa sekarang ini, kerusakan yang terjadi di daratan dan
di lautan makin parah saja. Baik kerusakan yang sifatnya lingkungan, terlebih
lagi yang sifatnya moralitas. Ironinya, kerusakan itu terjadi seiring dengan
meningkatnya jumlah manusia dan makin tingginya intelektualitas mereka. Dan
semua itu seolah-olah ‘disahkan’ atas nama modernitas dan hak-hak asasi
manusia. Telah begitu banyak aktivis yang menyuarakan dan memperjuangkan agar
semua itu dihentikan, tetapi upaya-upaya mereka itu hanya mampu memperlambat
saja. Bahkan tidak jarang mereka menjadi martir (korban) dari pejuangannya,
sementara ‘perusakan’ berjalan terus, terkadang malah mendapat legalitas dan
‘payung hukum”.
Secara umum, ketika kita membaca QS
Ar Rum 41 tersebut pemahaman kita akan dibawa pada salah satu bentuk ‘ramalan’
Al Qur’an tentang keadaan yang akan terjadi jauh di masa depan, khususnya
masalah lingkungan. Hutan hijau yang menjadi ‘paru-paru’ dunia jauh berkurang,
lautan (pantai-pantai) diurug dan direklamasi, hutan bakau lenyap tanpa bekas.
Sedikit demi sedikit suhu bumi naik (global warming), yang berakibat gugusan
gunung-gunung es di kutub akan berangsur mencair. Akhirnya manusia sendiri yang
akan merasakan kesulitan dalam hidupnya. Seperti inilah umumnya pemahanan kita
tentang ayat tersebut.
Sedangkan Abu Bakar ash Shiddiq RA
menafsirinya dalam bentuk ‘jagad kecil’, yakni diri manusia, tidak sekedar
‘jagad besar’, lingkungan hidup manusia di bumi. Beliau menggambarkan bahwa : Daratan
(barri) adalah lisan dan lautan (bahri) adalah hati. Apabila lisan rusak, maka
pribadi-pribadi manusia akan menangisinya, dan apabila hati yang rusak, maka
para malaikat yang akan menangisinya. Dalam hal ini, beliau menafsiri daratan
dan lautan dalam kontek moralitas.
Lisan dan hati adalah dua bagian
yang amat penting pada diri manusia, dua bagian kecil dibanding keseluruhan
tubuhnya, tetapi sangat menentukan bagaimana ‘nilai’ dirinya. Baik dalam
kehidupan dunia, terlebih dalam kehidupan akhiratnya. Lisan mewakili lahiriah
sedang hati mewakili bathiniah, tetapi pada dasarnya mempunyai ‘tugas utama’
yang terhubung, yakni dzikrullah (selalu mengingat Allah), hanya saja tidak
selalu yang satu mencerminkan yang lainnya. Tidak jarang ada manusia yang
lisannya begitu baik dan memikat, tetapi hatinya rusak. Tetapi ketika lisannya
telah rusak, kebanyakan (walau tidak selalu) hatinya juga telah rusak.
Allah telah menciptakan manusia
dengan berbagai macam perbedaan. Baik berbeda suku dan bangsa, warna kulit,
tinggi badan, bentuk mata, kebiasaan, makanan, dan banyak perbedaan lainnya,
termasuk secara umum keindahan (cantik/tampan dan jeleknya) wajahnya. Walau
secara umum, perbedaan tersebut telah memberikan nilai beda bagi manusia,
tetapi di sisi Allah, nilai kemuliaannya terletak pada ketakwaannya (QS Al
Hujurat 13). Dan pada dasarnya hal itu akan ‘diwakili’ oleh lisan dan hatinya.
Betapa banyak kita menjumpai
keadaan seseorang yang memiliki ‘kesempurnaan’ secara lahiriah, tetapi tidak
mampu menjaga lisannya, maka ia akan jatuh pada pandangan manusia. Dari
lisannya seringkali keluar kata-kata yang menghujat dan menyakiti, sombong dan
merendahkan orang lain, seolah-olah hanya dia saja yang benar dan manusia
terbaik. Tidak jarang pula keluar perkataan kotor dan jahat yang tidak sesuai
dengan norma susila, budaya dan agama. Lisannya yang kecil itu telah
menjatuhkan nilai kemanusiaannya, sungguh sangat bertolak belakang dengan
penampilannya. Dalam keadaan seperti inilah para manusia biasanya
‘menyayangkan’ keadaan dirinya, Abu Bakar menyebutnya dengan ‘menangisinya’.
Hati adalah bagian dari diri manusia
yang tidak terduga, pantaslah kalau Abu Bakar RA mengibaratkannya sebagai
lautan. Bahkan telah terkenal sebuah peribahasa ‘Dalamnya lautan bisa diduga,
tetapi hati seseorang siapa yang tahu?’ Imam Al Ghazali mengatakan bahwa hati
itu ibarat raja dalam ‘kerajaan’ manusia, yang akan menentukan corak dan keadaan
dirinya. Selamat atau tidaknya seseorang itu di akhirat kelak, sangat
tergantung bagaimana keadaan hatinya.
Secara fitrah hati manusia adalah
baik, dan disiapkan untuk sumber kebaikan bagi manusia. Iman dan takwa terletak
di dalam hati, kemudian memancar (mewujud) ke seluruh bagian tubuhnya. Tetapi
‘musuh-musuh laten’ tidak pernah berhenti dan beristirahat untuk menyesatkan
manusia, mereka cukup lihai ‘memanfaatkan’ dua hal yang kebanyakan manusia
menjadi lemah karenanya, yakni kesenangan hawa nafsu dan kenikmatan duniawiah. Oleh
karena itulah Iblis dan bala-tentaranya dari bangsa syetan memfokuskan dirinya
untuk menggoda dan menyesatkan manusia dari sisi hatinya.
Para malaikat tahu persis bagaimana
kemuliaan manusia dibanding mahluk Allah lainnya. Bahkan untuk itu mereka
diperintahkan Allah untuk sujud (penghormatan) kepada Nabi Adam AS yang menjadi
‘bapak’ bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, ketika mereka menyaksikan
hati manusia menjadi rusak karena memperturutkan hawa nafsu dan bergelimang dengan
kesenangan duniawiah semata, hari esok (masa depan) yang sebenarnya, yakni hari
akhirat terlupakan, mereka menyayangkan dan menangisinya. Hati manusia yang
fitrahnya suci jadi penuh dengan penyakit yang menggerogotinya, semisal tamak,
dengki, takabur, ujub, egois, sok berkuasa, tidak punya rasa kasih sayang, dan
lain sebagainya.
Note:ni10
Langganan:
Postingan (Atom)