Buku ini berisi butir nasehat yang dikutip dari Kitab Nashoihul Ibad oleh Syeh Nawawi bin Umar al Bantani al Jawi, yang sebenarnya merupakan syarah dari rangkaian nasehat yang disusun oleh Ibnu Hajar al Asqolani al Mishri, penyusun Kitab Fathul Bari (syarah Shahih Buchori) yang fenomenal itu. Penjelasan dikutip dari berbagai kitab lainnya. Semoga bermanfaat, dan membuat kita makin taqarrub kepada Allah SWT.
Rabu, 03 Mei 2023
Kamis, 20 Oktober 2016
Nasehat ke 16, Syahwat dan Sabar Bisa Mengubah
Seorang
Ulama berkata, “Sesungguhnya syahwat itu bisa mengubah raja menjadi hamba, dan
kesabaran itu bisa mengubah hamba menjadi raja. Bukanlah engkau telah melihat
kisah Yusuf dan Zulaikha.”
Syahwat adalah kesenangan nafsu
yang segera dan sesaat, yang seringkali melupakan bahaya dan kemelaratan yang
bisa terjadi setelahnya, baik dalam jangka pendek atau jangka panjang. Sedang
kesabaran adalah ketabahan, kesediaan untuk mengalami kesusahan dan beratnya
perjuangan, meninggalkan berbagai kesenangan, untuk bisa mewujudkan apa yang
dicita-citakan. Kita mengenal suatu peribahasa yang menggambarkan kesabaran,
yaitu : Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu
bersenang-senang kemudian.
Orang yang menyukai sesuatu dan
berharapan untuk memilikinya, maka ia akan menjadi hamba sesuatu itu. Tentunya
tidak masalah jika sesuatu itu adalah kesenangan abadi, kenikmatan akhirat
sebagaimana dijanjikan Allah SWT dan Rasulullah SAW, karena hal itulah yang
justru diperintahkan, meletakkan kecintaan yang utama kepada Allah dan
Rasulullah SAW. Dan ini bisa dikatakan sebagai kesabaran yang sebenarnya, tidak
sekedar sabar untuk memperoleh derajad dan keuntungan di dunia, walau sebagai
seorang raja sekalipun.
Jika sesuatu yang menjadi kecintaan
adalah kesenangan syahwat, maka ia benar-benar menjadi seorang hamba, seorang
budak semata walau secara lahiriah ia bergelimang dengan harta kekayaan dan
jabatan tinggi, bahkan sebagai seorang raja. Semua kesenangan itu hanya sesaat,
segera setelah nyawanya dicabut Malaikat Izrail dan memasuki alam kubur, hanya
kesengsaraan yang akan dialaminya. Bahkan tidak jarang ia tidak bisa menikmati
kesenangan duniawiah yang telah dikumpulkan dan diupayakannnya karena berbagai
penyakit yang dideritanya.
Dalam kisah Nabi Yusuf AS ketika
masa remajanya di Mesir, beliau hanyalah seorang budak di rumah seorang
pembesar kerajaan yang bernama Qithfir. Istri Qithfir yang bernama Zulaikha,
seorang putri jelita dan berkedudukan tinggi, ternyata terpikat oleh ketampanan
dan kemudaan beliau. Tidak sekedar terpikat, Zulaikha juga memperturutkan
godaan syahwatnya untuk bisa memiliki dan ‘bersenang-senang’ dengan Yusuf,
bahkan tidak segan untuk ‘menjebak’ beliau dalam suatu kamar tertutup. Tetapi
Allah melindungi beliau sehingga tidak terjatuh dalam jebakannya. Zulaikha
sempat berdalih bahwa semua itu adalah keinginan Yusuf, tetapi akhirnya Qithfir
mengetahui bahwa istrinya yang bersalah, dan rusaklah namanya di mata suaminya
itu.
Ketika kaum wanita di Mesir
mengetahui tipu daya yang dijalankan Zulaikha, merekapun mencemoohkan dirinya,
hingga makin jatuhlah namanya dalam pandangan masyarakat Mesir. Walau kemudian
ia bisa membalaskan dendamnya dalam suatu skenario ‘jamuan buah dan pisau
tajam’ sembari menampilkan Yusuf di antara wanita-wanita itu, tetapi citra
dirinya sebagai wanita terhormat tidak serta merta tertolong.
Akan halnya Nabi Yusuf, walau pada
dasarnya beliau tidak bersalah, tetapi statusnya sebagai budak membuat beliau
tetap saja menjadi ‘terdakwa’ dalam kasus tersebut. Tidak ada pilihan kecuali
beliau harus bersabar, kesabaran yang bisa dikatakan telah menjadi ‘keseharian’
beliau sejak masik anak-anak, karena kedengkian saudara-saudaranya. Bahkan
ketika beliau harus masuk penjara setelah skenario yang dijalankan Zulaikha
terhadap wanita-wanita di Mesir itu, beliau menjalaninya dengan penuh
kesabaran. Dan justru dari penjara inilah akhirnya beliau menjadi pembesar
kerajaan hanya karena impian sang Raja Mesir. .
Note:ni11,qa37
Nasehat ke 15, Jika Lisan dan Hati Rusak
Abu
Bakar Ash-Shiddiq berkata, “Daratan adalah lisan dan lautan adalah hati.
Apabila lisan rusak, maka pribadi-pribadi manusia akan menangisinya, dan
apabila hati yang rusak, maka para malaikat yang akan menangisinya…!”
Ketika Abu Bakar Ash Shiddiq RA
membaca Al Qur’an dan sampai pada ayat ke 41 dari surat Ar-Rum, yakni : “Telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Maka beliau berkata
seperti tersebut di atas, seolah-olah memberikan tafsiran sesuai dengan
pandangan dan pemahaman beliau.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dari
tahun ke tahun hingga masa sekarang ini, kerusakan yang terjadi di daratan dan
di lautan makin parah saja. Baik kerusakan yang sifatnya lingkungan, terlebih
lagi yang sifatnya moralitas. Ironinya, kerusakan itu terjadi seiring dengan
meningkatnya jumlah manusia dan makin tingginya intelektualitas mereka. Dan
semua itu seolah-olah ‘disahkan’ atas nama modernitas dan hak-hak asasi
manusia. Telah begitu banyak aktivis yang menyuarakan dan memperjuangkan agar
semua itu dihentikan, tetapi upaya-upaya mereka itu hanya mampu memperlambat
saja. Bahkan tidak jarang mereka menjadi martir (korban) dari pejuangannya,
sementara ‘perusakan’ berjalan terus, terkadang malah mendapat legalitas dan
‘payung hukum”.
Secara umum, ketika kita membaca QS
Ar Rum 41 tersebut pemahaman kita akan dibawa pada salah satu bentuk ‘ramalan’
Al Qur’an tentang keadaan yang akan terjadi jauh di masa depan, khususnya
masalah lingkungan. Hutan hijau yang menjadi ‘paru-paru’ dunia jauh berkurang,
lautan (pantai-pantai) diurug dan direklamasi, hutan bakau lenyap tanpa bekas.
Sedikit demi sedikit suhu bumi naik (global warming), yang berakibat gugusan
gunung-gunung es di kutub akan berangsur mencair. Akhirnya manusia sendiri yang
akan merasakan kesulitan dalam hidupnya. Seperti inilah umumnya pemahanan kita
tentang ayat tersebut.
Sedangkan Abu Bakar ash Shiddiq RA
menafsirinya dalam bentuk ‘jagad kecil’, yakni diri manusia, tidak sekedar
‘jagad besar’, lingkungan hidup manusia di bumi. Beliau menggambarkan bahwa : Daratan
(barri) adalah lisan dan lautan (bahri) adalah hati. Apabila lisan rusak, maka
pribadi-pribadi manusia akan menangisinya, dan apabila hati yang rusak, maka
para malaikat yang akan menangisinya. Dalam hal ini, beliau menafsiri daratan
dan lautan dalam kontek moralitas.
Lisan dan hati adalah dua bagian
yang amat penting pada diri manusia, dua bagian kecil dibanding keseluruhan
tubuhnya, tetapi sangat menentukan bagaimana ‘nilai’ dirinya. Baik dalam
kehidupan dunia, terlebih dalam kehidupan akhiratnya. Lisan mewakili lahiriah
sedang hati mewakili bathiniah, tetapi pada dasarnya mempunyai ‘tugas utama’
yang terhubung, yakni dzikrullah (selalu mengingat Allah), hanya saja tidak
selalu yang satu mencerminkan yang lainnya. Tidak jarang ada manusia yang
lisannya begitu baik dan memikat, tetapi hatinya rusak. Tetapi ketika lisannya
telah rusak, kebanyakan (walau tidak selalu) hatinya juga telah rusak.
Allah telah menciptakan manusia
dengan berbagai macam perbedaan. Baik berbeda suku dan bangsa, warna kulit,
tinggi badan, bentuk mata, kebiasaan, makanan, dan banyak perbedaan lainnya,
termasuk secara umum keindahan (cantik/tampan dan jeleknya) wajahnya. Walau
secara umum, perbedaan tersebut telah memberikan nilai beda bagi manusia,
tetapi di sisi Allah, nilai kemuliaannya terletak pada ketakwaannya (QS Al
Hujurat 13). Dan pada dasarnya hal itu akan ‘diwakili’ oleh lisan dan hatinya.
Betapa banyak kita menjumpai
keadaan seseorang yang memiliki ‘kesempurnaan’ secara lahiriah, tetapi tidak
mampu menjaga lisannya, maka ia akan jatuh pada pandangan manusia. Dari
lisannya seringkali keluar kata-kata yang menghujat dan menyakiti, sombong dan
merendahkan orang lain, seolah-olah hanya dia saja yang benar dan manusia
terbaik. Tidak jarang pula keluar perkataan kotor dan jahat yang tidak sesuai
dengan norma susila, budaya dan agama. Lisannya yang kecil itu telah
menjatuhkan nilai kemanusiaannya, sungguh sangat bertolak belakang dengan
penampilannya. Dalam keadaan seperti inilah para manusia biasanya
‘menyayangkan’ keadaan dirinya, Abu Bakar menyebutnya dengan ‘menangisinya’.
Hati adalah bagian dari diri manusia
yang tidak terduga, pantaslah kalau Abu Bakar RA mengibaratkannya sebagai
lautan. Bahkan telah terkenal sebuah peribahasa ‘Dalamnya lautan bisa diduga,
tetapi hati seseorang siapa yang tahu?’ Imam Al Ghazali mengatakan bahwa hati
itu ibarat raja dalam ‘kerajaan’ manusia, yang akan menentukan corak dan keadaan
dirinya. Selamat atau tidaknya seseorang itu di akhirat kelak, sangat
tergantung bagaimana keadaan hatinya.
Secara fitrah hati manusia adalah
baik, dan disiapkan untuk sumber kebaikan bagi manusia. Iman dan takwa terletak
di dalam hati, kemudian memancar (mewujud) ke seluruh bagian tubuhnya. Tetapi
‘musuh-musuh laten’ tidak pernah berhenti dan beristirahat untuk menyesatkan
manusia, mereka cukup lihai ‘memanfaatkan’ dua hal yang kebanyakan manusia
menjadi lemah karenanya, yakni kesenangan hawa nafsu dan kenikmatan duniawiah. Oleh
karena itulah Iblis dan bala-tentaranya dari bangsa syetan memfokuskan dirinya
untuk menggoda dan menyesatkan manusia dari sisi hatinya.
Para malaikat tahu persis bagaimana
kemuliaan manusia dibanding mahluk Allah lainnya. Bahkan untuk itu mereka
diperintahkan Allah untuk sujud (penghormatan) kepada Nabi Adam AS yang menjadi
‘bapak’ bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, ketika mereka menyaksikan
hati manusia menjadi rusak karena memperturutkan hawa nafsu dan bergelimang dengan
kesenangan duniawiah semata, hari esok (masa depan) yang sebenarnya, yakni hari
akhirat terlupakan, mereka menyayangkan dan menangisinya. Hati manusia yang
fitrahnya suci jadi penuh dengan penyakit yang menggerogotinya, semisal tamak,
dengki, takabur, ujub, egois, sok berkuasa, tidak punya rasa kasih sayang, dan
lain sebagainya.
Note:ni10
Selasa, 26 Januari 2016
Nasehat ke 14, Mengenal Allah dan Mengenal Diri Sendiri
Seorang Ulama berkata, “Barang siapa yang
mengira bahwa ia mempunyai penolong yang lebih utama (hebat) daripada Allah,
maka ia hanya sedikit mengenal Allah. Dan barangsiapa yang mengira bahwa ia
mempunyai musuh yang lebih kejam daripoda hawa nafsunya, maka ia hanya sedikit mengenal
dirinya sendiri.”
Tujuan
utama dari diciptakannya manusia (dan juga jin) adalah untuk beribadah kepada
Allah, sebagaimana disitir dalam QS Adz Dzariyat 56. Tetapi dari masa ke masa,
sedikit sekali manusia (dan juga jin) yang BISA mengaplikasikannya secara utuh.
Sebenarnya hal ini tidak mengherankan karena sejak awal diciptakannya Nabi Adam
AS, Iblis telah memproklamirkan dirinya untuk memusuhi beliau dan anak
keturunannya. Ketika ia dilaknat Allah karena menolak untuk sujud
(penghormatan) kepada Nabi Adam AS, ia bersumpah untuk menyesatkan manusia (dan
juga jin) dengan segala macam cara dan dari segala arah, untuk memperoleh
sebanyak-banyaknya teman di neraka, yang telah ditetapkan Allah sebagai tempat
tinggalnya.
Perjalanan
utama manusia adalah kembali ke tempat asal nenek moyangnya, yakni Nabi Adam AS
yang ditempatkan di surga pada awal diciptakan. Dan tentunya tujuan yang lebih
tinggi daripada itu adalah kembali kepada Allah, yakni ma’rifat kepada Allah.
Tetapi perjalanan itu tidaklah mudah, karena di samping Iblis sebagai musuh,
Allah juga membekali manusia dengan hawa nafsu demi untuk kelangsungan
hidupnya, yang secara naluriah selalu ingin merasakan kesenangan yang segera
dan sesaat. Susah sekali bagi kita mengajak
hawa nafsu untuk ‘bersusah-payah’ mengikuti jalan ibadah menuju Allah dan
mengabaikan kesenangannya, demi kesenangan dan kenikmatan abadi di akhirat
kelak. Dunia dan segala gemebyarnya saat ini lebih memikat hawa nafsu kita
daripada kesenangan yang sempurna tanpa batas di surga kelak.
Ketika Allah
telah selesai menciptakan surga dan neraka, Allah berfirman kepada Malaikat
Jibril, “Pergilah ke surga, dan lihatlah apa yang telah Aku persiapkan untuk
penghuninya di sana!!”
Malaikat Jibril
memenuhi perintah tersebut, dan beberapa waktu kemudian ia datang menghadap
kepada Allah dan berkata, “Ya Allah, demi segala keagungan-Mu, tidak seorangpun
yang pernah mendengar tentang surga tersebut, kecuali ia sangat ingin
memasukinya!!”
Kemudian Allah
memerintahkan seorang malaikat lainnya untuk menghiasi (menutupi) surga
tersebut dengan hal-hal yang tidak disukai, dan berbagai macam perintah
peribadatan yang harus dilakukan untuk bisa memasukinya. Setelah semua itu
selesai, Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk sekali lagi melihat keadaan
surga. Ketika kembali ke hadapan Allah, ia berkata, “Demi segala keagungan-Mu,
ya Allah, aku khawatir tidak seorangpun yang akan mampu untuk memasukinya!!”
Setelah itu
Allah berfirman lagi kepada Malaikat Jibril, “Pergilah ke neraka, dan lihatlah
apa yang telah Aku persiapkan untuk para penghuninya di sana!!”
Malaikat Jibril
memenuhi perintah tersebut, dan ia melihat api neraka itu saling menerkam
sebagian atas sebagian lainnya. Beberapa waktu kemudian ia datang menghadap
kepada Allah dan berkata, “Ya Allah, demi segala keagungan-Mu, tidak seorangpun
yang pernah mendengar tentangnya, kecuali ia sangat ingin lari dari neraka
tersebut!!”
Kemudian Allah
memerintahkan seorang malaikat lainnya untuk menghiasi (menutupi) neraka
tersebut dengan hal-hal yang disukai oleh nafsu syahwat, dan berbagai macam
kesenangan lainnya yang terlarang secara syara’. Setelah semua itu selesai,
Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk sekali lagi mengunjungi neraka.
Ketika kembali ke hadapan Allah, ia berkata, “Demi segala keagungan-Mu, ya
Allah, aku khawatir tidak ada seorangpun yang akan luput dari padanya, dan
mereka akan memasukinya!!”
Dari sinilah
sebagian ulama tersebut menasehatkan, bahwa musuh utama bagi seseorang itu
bukanlah Iblis dan bala tentaranya, tetapi justru hawa nafsunya sendiri. Segala
macam tipu daya dan perangkap Iblis, baik dari sisi gemebyarnya dunia ataupun
dari sisi ibadahnya (dengan membuatnya tidak ikhlas), hanya bisa berhasil jika
seseorang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya. Tanpa ‘memanfaatkan’ hawa
nafsu yang memang jadi bagian yang utuh dari sisi manusiawinya, Iblis dan bala
tentaranya dari syaitan, akan kesulitan dalam menyesatkan seseorang dari jalan
fitrahnya, yang memang ingin kembali kepada Allah. Innaa lillaahi wa innaa
ilaihi raaji’uun.
Dari masa ke
masa, Allah SWT telah mengirimkan para Rasul-Nya untuk membimbing umat manusia
agar ‘sukses’ kembali ke tempat asal, surga, hingga yang terakhir adalah
junjungan kita, Nabi Muhammad SAW. Berbagai macam ibadah, baik yang sifatnya
wajib ataupun sunnah, disampaikan kepada manusia agar memuluskan jalannya
kembali ke surga. Tuntunan ibadah tersebut layaknya penolong bagi kita, untuk
memerangi berbagai macam musuh yang merintangi jalan kita, termasuk penolong
juga dalam mengendalikan hawa nafsu kita. Akan tetapi, sebagaimana nasehat
sebagian ulama tersebut, penolong utama kita bukanlah berbagai macam ibadah
yang telah kita lakukan, tetapi justru Allah SWT sendiri.
Ketika
menafsirkan ayat ke lima
dari QS Al Fatihah : Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (Kepada-Mu kami
menyembah dan kepada-Mu kami mohon pertolongan), para ahli tasauf (ahli
kerohanian Islam) menyatakan bahwa, sesungguhnya kita lebih membutuhkan
pertolongan Allah dalam beribadah kepada-Nya. Sebab kalau tidak adanya
pertolongan Allah, bagaimana kita bisa beribadah dengan benar, dengan ikhlas
semata-mata mengharap ridho Allah? Harus diingat, Iblis begitu piawainya dalam
memasang perangkapnya, sehingga suatu ibadah yang kita lakukan terkadang hanya
untuk ‘memuaskan’ hawa nafsu dan
keinginan kita saja. Ibadah hanya menjadi sarana dan alat untuk
‘menodong’ Allah SWT agar kita memperoleh sesuatu, baik lahiriah ataupun
batiniah (kejiwaan), yang sifatnya hanya sesaat menyenangkan hawa nafsu kita.
Oleh karena itu,
orang yang benar-benar ma’rifat menyadari bahwa tidak ada musuh yang paling
berbahaya kecuali hawa nafsunya sendiri, dan tidak ada penolong baginya yang
paling utama kecuali Allah SWT. Pengakuan seperti ini pernah disampaikan oleh
Nabi Yusuf AS, sebagaimana disitir dalam QS Yusuf ayat 53 : Dan aku tidak
membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Note:ni
Nasehat ke 13, Orang yang Ma’rifat dan Orang yang Zuhud
Seorang Ulama berkata, “Kemauan orang yang
makrifat (Arif) adalah memuji sedang kemauan orang zuhud (Zahid) adalah berdoa,
karena keinginan seorang Arif hanyalah pada (keridhaan) Rabb-nya, sedang
keinginan seorang Zahid adalah pada (kemanfaatan) dirinya.”
Dua kelompok
kaum muslimin, kaum Arifin dan kaum Zahidin bisa dikatakan telah mencapai
tingkat yang tinggi dalam keimanan dan ketakwaan, di atas umumnya kaum muslimin
seperti kita. Bisa jadi secara amalan lahiriah dan ilmu keislaman kelihatannya
tidak lebih baik (lebih banyak secara kuantitatif) dari ulama atau ustad yang
kita kenali, tetapi keadaan hati mereka itulah yang memperoleh penilaian lebih
di sisi Allah. Mungkin ini yang digambarkan oleh Rasulullah SAW ketika beliau
memuji Abu Bakar RA di antara para sahabat lainnya, “Sesungguhnya Abu Bakar itu
lebih baik daripada kalian bukan karena lebih banyak shalatnya dan puasanya,
tetapi karena sesuatu yang ada di dalam hatinya…”
Orang Arif
adalah adalah orang yang telah mengenal (berma’rifat kepada) Allah dan selalu
dalam keadaan mengingat Allah. Dalam beribadah kepada Allah, tidak ada lagi
motivasi surga atau neraka, tetapi semata-mata karena cinta. Layaknya seorang
yang sedang jatuh cinta, tidak ada yang paling disukainya kecuali hanya memuji
dan mengagumi Dzat yang dicintainya. Dan tidak ada yang paling diharapkannya
kecuali Allah akan ‘menerima’ cintanya dan melimpahkan keridhaan-Nya.
Orang yang zuhud
adalah orang yang ‘berpaling’ dari hal-hal yang bersifat duniawiah. Tidak
selalu orang yang fakir atau miskin, tetapi orang kaya yang tidak disibukkan
dengan harta dan kehidupan dunianya termasuk dalam kaum zahidin. Nabi Sulaiman
AS yang memiliki harta berlimpah dan kekuasaan besar, termasuk terhadap bangsa
jin, binatang, bahkan angin, adalah seorang nabi yang zuhud. Tetapi yang paling
terkenal kezuhudannya adalah Nabi Isa
AS. Begitu zuhudnya beliau ini, sampai
ketika Iblis menuduhnya masih ‘memiliki’ dunia karena tidur berbantalkan sebuah
batu, beliau melemparkan batu tersebut dan tidak pernah berbantalkan apapun
ketika beliau tidur. Sedangkan Rasulullah SAW, bukan hanya seorang nabi yang
zuhud, tetapi juga yang paling ma’rifat kepada Allah SWT.
Orang yang zuhud
bisa dikatakan sebagai orang yang sangat memahami makna istirja’, yakni kalimat
‘Inna lillaahi wainnaa ilaihi raaji’un” (Sesungguhnya kita ini milik Allah dan
sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya), sebagaimana disitir dalam Al Qur’an
surat Al
Baqarah ayat 156. Mereka menyadari bahwa hal-hal duniawiah akan menyulitkan
atau bahkan jadi penghalang ketika akan kembali kepada Allah, karena itu mereka
‘memilih’ untuk berpaling darinya. Kalaupun ada bagian dunia yang dimiliki dan
diupayakannya, semata-mata untuk bekal dan penolongnya dalam beribadah dan
berdoa kepada Allah, sehingga meringankannya pada yaumul hisab kelak dan
akhirnya ia memperoleh derajad yang tinggi di sisi Allah.
Note:ni9,aks115
Sabtu, 29 Agustus 2015
Nasehat ke 12, Dosa Kecil dan Dosa Besar
Nabi
SAW bersabda, “Dosa kecil tidaklah dipandang kecil jika terus-menerus
dilakukan, dan dosa besar tidaklah dipandang besar jika selalu disertai dengan
memohon ampunan (beristighfar)”
Nasehat Nabi SAW ini tampaknya
menjadi dasar dari nasehat hukama sebelumnya, bahwa dosa kecil yang terus
menerus dilakukan tidak bisa dikatakan lagi sebagai dosa kecil. Tidak hanya
sekedar tumpukan (volume) dosanya yang menjadi besar, tetapi ‘kehendak’ untuk
terus melakukan dosa kecil itulah yang justru lebih besar dosanya, karena
merupakan dosa batiniah (dosa hati). Apalagi kalau nantinya akan menyeret
dirinya untuk melakukan dosa-dosa besar.
Namun dalam nasehat ini, Nabi SAW
juga memotivasi umatnya untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah, walau
mungkin ia tengah bergelimang dengan dosa-dosa besar, yakni dengan memohon
ampunan Allah, selalu beristighfar tanpa henti-hentinya. Nabi SAW sendiri mencontohkan,
beliau beristighfar kepada Allah 70 kali (dalam riwayat lainnya 100 kali)
setiap harinya, walau beliau ma’shum (terjaga dari dosa).
Memang, salah satu keutamaan umat
Nabi Muhammad SAW dibanding dengan umat-umat nabi sebelumnya adalah dalam
masalah taubat. Kaum dari nabi sebelumnya, ketika melakukan suatu perbuatan
dosa terkadang harus memotong (memutilasi) bagian tubuh yang berdosa tersebut.
Terkadang mereka langsung disiksa dengan ditelan bumi, ditenggelamkan, atau dirubah
wajahnya menjadi monyet. Bahkan harus membunuh dirinya sendiri (bunuh diri)
untuk bisa diampuni dosa-dosanya.
Berbeda dengan mereka, pintu taubat
bagi umat Rasulullah SAW selalu terbuka hingga masa yang sangat dekat dengan
hari kiamat, yakni ketika matahari terbit dari arah barat. Saat itulah pintu
taubat tertutup, dan tidak berarti lagi amal kebaikan, kecuali bagi orang-orang
yang telah terbiasa melakukan amal kebaikan itu sebelumnya. Secara pribadi,
pintu taubat itu tetap terbuka bagi kaum muslimin sampai saat yang sangat dekat
dengan kematian, yakni ketika ruhnya belum sampai di tenggorokannya. Karena
itu, bagi kita yang berdosa, siksaan itu ditangguhkan atau bisa jadi dihapuskan
jika kita bertaubat dengan sungguh-sunnguh. Bahkan bagi mereka yang mungkin
tidak bertaubat hingga kematiannya, masih ada harapan untuk memperoleh syafaat
Rasulullah SAW di yaumul makhsyar, walau belum tentu semua orang
memperolehnya.
Bagi beberapa kaum nabi-nabi
sebelumnya berlaku kaidah ‘dosa yang pertama dan juga yang terakhir kalinya’,
yakni, begitu melakukan dosa yang sama untuk ke dua kalinya, maka tertutuplah
pintu taubat dan ia telah menjadi ‘penghuni’ neraka, walau mungkin masih hidup
di dunia. Ini berbeda dengan umat Nabi SAW dimana Allah masih selalu membuka
pintu rahmat dan maghfirah-Nya, selama sang hamba mau memohon ampunan
kepada-Nya walau ia berkali-kali jatuh pada dosa yang sama. Bahkan salah satu
dosa terbesar yang mungkin akan sulit memperoleh syafaat pada hari kiamat kelak
adalah dosa ‘berputus asa’ dari rahmat Allah. Yakni, ia beranggapan Allah tidak
akan mau mengampuni dosa-dosanya yang selalu berulang-ulang dilakukannya, yang
begitu banyak dan bertumpuk-tumpuk hingga layaknya memenuhi bumi dan
langit
Note:ni9
Nasehat ke 11, Dosa Kecil Tempat Persemaian Dosa Besar
Sebagian
Ahli Hikmah (Hukama) berkata, “Janganlah meremehkan dosa-dosa kecil, karena
dari situlah bersemi dosa-dosa besar”
Walau pada dasarnya dosa kecil dan
dosa besar itu sama, yakni merupakan bentuk pelanggaran terhadap larangan-larangan
Allah SWT dan Rasulullah SAW, atau pengabaian (tidak melaksanakan)
perintah-perintah Allah dan Nabi SAW, tetapi berbeda dalam bentuk ampunan yang
datang dari Allah. Dosa kecil akan ‘otomatis’ (seketika) diampuni oleh Allah
ketika orang itu melakukan suatu amal kebaikan, semisal berwudhu, shalat,
bersedekah, membantu saudara sesama muslim, dll-nya. Hal ini sejalan dengan apa
yang disabdakan Nabi SAW, “Ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya
menghapuskannya.”
Atau dalam redaksi lainnya, Beliau
bersabda, “Sesungguhnya amal kebaikan itu menutup/ menghapuskan amal
kejelekan.”
Tetapi dosa besar, semisal memusyrikkan
Allah, durhaka kepada orang tua, meninggalkan shalat, minum khamr (miras,
narkoba dan obat-obatan terlarang), memakan (menjalankan) riba, membunuh tanpa
hak, berzina, dll-nya, belum akan diampuni oleh Allah sebelum ia bertaubat yang
sungguh-sungguh (taubatan nashuha). Taubat nasuha ini harus diawali dengan
penyesalan, kemudian harus ‘berhenti’ dari perbuatan yang menyebabkan dosa
tersebut, diikuti dengan niat kuat untuk tidak mengulanginya lagi. Jika
menyangkut dengan hak manusia lainnya, baik harta atau kehormatannya, maka ia
harus mengembalikan atau meminta halalnya.
Namun demikian, seperti nasehat hukama
di atas, kita tidak boleh meremehkan dosa-dosa kecil, merasa ringan dan enteng
saja melakukannya hanya karena telah terbiasa berbuat amal kebaikan. Dosa-dosa
kecil, jika sering dilakukan pastilah akan menjadi tumpukan (volume) yang
besar. Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit, begitu istilah peribahasanya.
Sedangkan amal kebaikan, walau sering sekali dilakukan, belum tentu akan
menjadi tumpukan (volume) besar. Hanya amal kebaikan yang diterima oleh Allah
saja yang bermanfaat, sedang syarat untuk diterima sangat berat, khususnya
syarat batiniah yang bernama ‘ikhlas’.
Ketika seseorang telah telah
dilingkupi oleh dosa-dosa kecil, tanpa sadar ia akan mudah terjatuh pada
dosa-dosa besar. Apalagi tidak bisa dihindari, musuh utama kita, iblis dan anak
buahnya, syaitan yang terkutuk, pastilah akan berupaya keras menutupi dosa-dosa
kita, dan menghiasi serta meninggikan amal-amal kebaikan kita, sehingga tanpa
sadar kita telah masuk perangkapnya. Kalau masuk perangkap dalam acara
SUPERTRAP atau acara sejenisnya, hanya menjadi guyonan sesaat dan tidak
berakibat fatal, tetapi jika masuk dalam perangkap Iblis dan syaitan (al
ghurur, tertipu), kita akan menyesal seumur hidup, menjadi teman-temannya di
neraka yang abadi, naudzubillahi min dzaalik.
Langganan:
Postingan (Atom)