Rabu, 24 Juni 2015

Nasehat ke 9, Maksiat karena Nafsu dan Kesombongan

Sufyan ats-Tsauri rahm berkata, “Setiap maksiat yang timbul dari syahwat, dapatlah diharapkan ampunannya. Tetapi kedurhakaan yang timbul dari sikap sombong tidak dapat diharapkan ampunannya, karena kedurhakaan Iblis berpangkal dari kesombongan, sedang kesalahan Nabi Adam AS berpangkal dari syahwat.”

Dosa dan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia dapat dibagi dua, yakni dosa yang diakibatkan oleh perbuatan lahiriah, dan diakibatkan oleh perbuatan hati (batiniah). Dosa lahiriah terjadi karena seseorang melanggar/mengerjakan apa yang dilarang oleh hukum agama (Fikih Islam), atau meninggalkan/melalaikan apa yang diperintahkan dalam hukum agama (Fikih Islam). Sedang dosa batiniah terjadi karena melakukan suatu perbuatan yang melanggar/menyimpangi akidah dan akhlak (tata krama), walau mungkin secara logika tidak salah dan tidak tampak secara lahiriah.
Dosa lahiriah misalnya adalah tidak shalat fardhu, tidak berpuasa Ramadhan, menyakiti orang tua, riba, berzina, membunuh orang tanpa hak, minum arak atau sejenisnya, dan lain-lainnya. Dosa batiniah misalnya bersikap hasad dan dengki, riya dan sum’ah, mendendam, dan banyak lainnya, serta dosa ‘tertua’ yang dilakukan iblis, kesombongan.
Sebagaimana nasehat Sufyan ats Tsauri rahm (Rahimatullah) tersebut di atas, orang yang berdosa secara lahiriah semisal memperturutkan nafsu syahwat, baik syahwat perut seperti Nabi Adam AS ketika makan buah pohon kayu (Iblis menyebutnya buah khuldi, buah keabadian di surga), atau syahwat lainnya, masih mudah diharapkan ampunannya. Setelah melakukan dosa tersebut, selalu ada di suatu saat atau di suatu tempat atau di suatu kesempatan dan kondisi, hati nurani (umum menyebutnya hati kecil) orang tersebut akan mengingatkan perbuatan dosanya itu dan mendorongnya untuk meminta ampunan kepada Allah. Hanya saja pertarungan antara nafsu dan hati nuraninya yang menentukan, apakah ia akan ‘mengikuti’ peringatan tersebut atau tidak.
Sementara dosa batiniah, seperti kesombongan Iblis dan Fir’aun misalnya, sulit sekali seseorang itu menyadari kalau sedang melakukan suatu perbuatan dosa. Ketika Iblis menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam AS, ia berdalih bahwa dzat penciptaannya, yakni api lebih baik daripada dzat penciptaan Nabi Adam AS, yakni tanah liat. Apalagi saat itu status dan derajad Iblis, yang saat itu masih bernama Azazil (nama Iblis disematkan setelah Azazil mendapat kutukan Allah), melebihi para malaikat. Para malaikat mengagumi kesalehan dan ketekunan ibadahnya, kepandaian dan tingkat ma’rifatnya sehingga memperoleh derajad yang tinggi dan kedekatan (taqarrub) kepada Allah melebihi mereka semua. 
Azazil sebenarnya dari golongan jin, tetapi bisa dikatakan ia jin yang zuhud (pertapa) dan saleh, yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah SWT. Ketika kaumnya dari bangsa jin banyak berbuat kerusakan di muka bumi, ia makin gencar beribadah dan taqarrub kepada Allah. Ia pun dinaikkan ke langit bumi (samaa’ad-dunya), dan dengan makin tekunnya beribadah, ia terus naik ke lapis-lapis langit berikutnya, hingga dekat dengan singgasana Allah, dan mendapat kepercayaan menjaga kunci-kunci surga. Diperlukan ribuan tahun, sebagian riwayat menyebut 80 ribu tahun dalam peribadatan tanpa terputus, hingga Azazil memperoleh derajad yang seperti itu. Dalam keadaan seperti itu, Allah memerintahkannya untuk bersujud kepada Nabi Adam AS yang baru saja diciptakan, dan timbullah kesombongan dalam hatinya, hingga menolak perintah Allah tersebut. Kata ‘Ana khoirun minhu’ (saya lebih baik daripada dia) yang diucapkannya, mungkin tidak hanya mewakili dzat penciptaannya saja, tetapi juga berbagai kelebihan lain yang dimilikinya. Bisa jadi banyaknya ibadah, ma’rifatnya kepada Allah, ketinggiannya di antara malaikat, keilmuannya dan lain sebagainya.
Dosa-dosa batiniah itu terkadang tidak muncul (terekpresikan) dengan nyata, bahkan yang terlihat kebalikannya. Bisa jadi seseorang terlihat khusyu dan tawadhu’ tetapi hatinya dipenuhi kesombongan (kibr), ujub dan syum’ah. Mungkin ia terlihat sangat dermawan, tetapi sebenarnya hatinya bakhil, pemberiannya dimotivasi oleh ketamakan, memperoleh hasil (harta) yang lebih banyak, penghormatan, derajad/jabatan dan pujian dari orang lain. Karena itulah seseorang yang mengidap ‘dosa batiniah’, terkadang merasa tidak bersalah, sebaliknya mengaku telah berbuat kebaikan sebagaimana diperintahkan agama. Semua itu terjadi karena ia kurang ‘teliti’ dalam mengamati niat dan motivasi hatinya, sehingga keikhlasannya dalam berbuat dan beramal sangat sedikit, atau bahkan sama sekali tidak ada.
Pada zaman Nabi Musa AS, Iblis sempat terbersit untuk taubat. Mungkin ia teringat akan masa-masa sebagai Azazil yang begitu tekun dan ‘asyik’ beribadah kepada Allah, sebagaimana dilakukan oleh Nabi Musa dan Nabi Harun beserta sebagian umatnya. Karena itu Iblis menemui beliau dan meminta tolong untuk menanyakan kepada Allah SWT, apakah kalau ia bertaubat saat itu akan diterima. Maka Beliau AS mendaki ke bukit Thursina untuk menyampaikan pertanyaan Iblis tersebut, dan Allah menjanjikan menerima taubatnya, dengan syarat ia mau bersujud di makam Nabi Adam AS. Begitu Nabi Musa AS menyampaikan syarat taubatnya tersebut, muncul lagi kesombongan Iblis. Ia berkata, “Ketika masih hidup saja aku tidak sudi bersujud kepadanya, apalagi sekarang ini ketika ia telah mati  dan terkubur di dalam tanah…!!”
      
Note:ni7ts42

Jumat, 09 Januari 2015

Nasehat ke 8, Modal Takwa dan Modal Dunia

Al-A’masyi rahm berkata, “Barangsiapa yang modal pokoknya takwa, maka lidah-lidah akan kelu menyifati keuntungan agamanya. Dan barangsiapa yang modal pokoknya adalah dunia, maka lidah-lidah juga tidak mampu menjumlahkan kerugian agamanya.” 

Kehidupan ini layaknya sebuah perniagaan yang menjanjikan sebuah keuntungan, baik keuntungan jangka pendek ataupun jangka panjang. Hanya saja, kebanyakan orang tertipu, baik oleh godaan syaitan atau hawa nafsunya, untuk mengejar keuntungan jangka pendek saja (yakni kesenangan duniawi) dan melalaikan keuntungan jangka panjangnya (yakni kesenangan akhirat). Padahal hakikat penciptaan manusia (dan juga jin) di bumi ini agar mereka bisa memetik dan menikmati kesenangan hidupnya yang abadi di akhirat, sebagaimana Firman Allah dalam QS adz-Dzaariyaat 56 : Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
Berbeda dengan mahluk Allah lainnya seperti hewan, tumbuhan, alam semesta dan lain-lainnya, termasuk malaikat, manusia dan jin memang diberikan ‘kebebasan’ bertindak dalam mengisi kehidupannya. Walau pada dasarnya diciptakan untuk beribadah kepada Allah, tetapi dalam batas-batas tertentu, mereka diberikan kemampuan untuk memilih dan ‘memanajemen’ apa yang mereka ‘kehendaki’ di dunia ini. Hanya saja pilihan apapun yang mereka lakukan, mereka akan mendapat konsekuensinya, yakni balasannya. Dan balasan yang sesungguhnya itu adalah di akhirat. Bisa saja seseorang itu seolah-oleh memperoleh hasil dan balasan yang baik dan melimpah di dunia, tetapi sebenarnya hanya kerugian besar di akhirat. Sebaliknya, ada orang yang merasakan kerugian dan kesengsaraan besar di dunia, tetapi sebenarnya ia bakal memperoleh keuntungan dan hasil (balasan) yang tidak terkira besarnya di akhirat kelak.
Karena itu sebagaimana nasehat al A’masyi (rahimahullah) tersebut di atas, jika manusia (dan juga jin) menjalankan ‘perniagaan’ hidupnya dengan modal pokok ketakwaan, yakni selalu mengisi dan ‘menjalankan perniagaannya’ dengan ibadah demi ibadah kepada Allah, maka ia akan memperoleh keuntungan agamawi yang tidak terkira. Tentu saja jika ia melaksanakan semuanya itu semata-mata untuk memperoleh keridhaan Allah dan balasan terbaik di akhirat. Kalaupun ada ‘balasan’ duniawi yang diterimanya, ia tidak terpengaruh dan tidak terlalaikan dari tujuan akhiratnya, apalagi sampai tenggelam menikmatinya. Ia akan terus bersabar menjalankan ibadah dan penghambaan kepada Allah, sampai Allah akan ‘memanggil’-nya dengan penuh kasih sayang, “Wahai jiwa yang tenang (an nafs al muthmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya, maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku…!”
Sebaliknya, jika manusia (dan juga jin) menjalankan ‘perniagaan’ hidupnya dengan modal pokok duniawi, maka sebagaimana nasehat al A’masyi tersebut, maka ia akan mendapat kerugian agamawi, yakni kerugian akhirat, yang tidak terkira besarnya. Bisa saja kelihatannya ia mendapat keuntungan dan kesenangan hidup yang begitu besar, tidak terukur dan seakan tidak ada habis-habisnya. Tetapi begitu ia memasuki alam kubur (walau mungkin jasad fisiknya tidak terkubur di tanah), ia mulai merasakan kerugian dan kesengsaraan yang sebenarnya. Bisa saja jasad fisiknya dikuburkan dalam pemakaman yang indah dan mewah laksana taman surga, bahkan juga dituliskan kata-kata ‘Istirahat dalam Kedamaian’ pada nisannya, dan berbagai tulisan indah dan menyejukkan lainnya. Tetapi sebenarnya, tidak sampai dua tiga meter di bawahnya, ia tengah merasakan beratnya ‘siksaan kubur’, yang tentunya belum seberapa jika dibandingkan dengan kesengsaraan di akhirat kelak, yakni di dalam neraka.

Note:ni7

Nasehat ke 7, Sikap Orang Mulia (Kariim) dan Orang Bijaksana (Hakiim)

Yahya bin Muadz rahm, “Orang mulia (al kariim) tidak berani berbuat maksiat kepada Allah, sedangkan orang yang bijaksana (al hakiim) tidak akan mementingkan dunia atas akhiratnya.”

Baik al Kariim (orang-orang yang mulia) atau al Hakiim (orang yang bijaksana) termasuk dalam kelompok muttaqiin (orang-orang yang bertakwa), hanya saja berbeda dalam derajad ketakwaannya. Yakni, mereka yang selalu membersihkan jiwanya dan selalu mengikuti ‘ilham’ ketakwaan, sebagaimana disitir dalam QS Asy Syam ayat 8-9.
Orang-orang yang termasuk dalam al Kariim, selalu berusaha untuk ‘meningkatkan’ ketakwaannya dengan jalan selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya (tidak bermaksiat). Biasanya mereka ini lebih mendahulukan untuk menjauhi larangan dan kemaksiatan, daripada pelaksanaan perintah, walau secara umum mereka melakukannya secara simultan (bersamaan). Tentu saja untuk yang sifatnya wajib atau fardhu, seperti shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat dan melaksanakan ibadah haji ketika telah mampu atau mencukupi, akan selalu menjadi prioritas utama bagi mereka untuk menunaikannya.
Perintah untuk melaksanakan kebaikan (yang sifatnya bukan wajib/fardhu) biasanya bertingkat-tingkat, dan sesuai dengan batas kemampuan masing-masing orang. Tetapi ketika menyangkut maksiat dan larangan Allah, sifatnya tegas dan menyeluruh. Kalau satu botol atau sejumlah besar khamr (miras, narkoba, dll) haram, maka walau hanya mencicipi satu sloki, bahkan sesendok atau satu gram khamr juga haram. Kalau suap dan korupsi bermilyar rupiah haram, maka suap dan korupsi walau hanya ribuan atau puluhan ribu juga haram. Kalau riba (rente) puluhan persen haram, maka riba (rente) walau hanya satu, bahkan setengah persen pun haram hukumnya. Begitu juga dengan berbagai larangan atau kemaksiatan kepada Allah lainnya, atau kedzaliman kepada sesama mahluk Allah lainnya.
Itulah sebabnya, sebagaimana dinasehatkan Yahya bin Muadz (rahimahullah), orang-orang yang mulia (al kariim) itu tidak berani bermaksiat kepada Allah, walau dalam ‘porsi’ sangat kecil atau sederhana sekalipun. Bagi mereka, lebih baik menghindari berbagai larangan Allah atau dari bermaksiat kepada-Nya, daripada ‘berlomba-lomba’ untuk melakukan berbagai kebaikan yang sifatnya sunnah (fadhalah), seperti puasa sunnah, haji dan umrah selain yang pertama, shalat-shalat sunnah, dan lain-lainnya. Apalah arti dari semua kebaikan itu jika mereka masih bermaksiat kepada Allah, terlebih lagi jika menyangkut sumber penghasilan yang tidak halal. Mereka ini akan ‘memilih’ untuk bekerja mencari hasil yang halal, walau untuk itu harus meninggalkan berbagai amal kebaikan yang sifatnya sunnah tersebut.
Sedangkan orang-orang yang bijaksana (al Hakiim), bisa dikatakan derajadnya setingkat di atas al Kariim. Bagi mereka, bukan hanya sekedar perkara haram yang menjadi perhatiannya (untuk dihindari), tetapi perkara mubah atau halal sekalipun, jika bisa mengganggu/melalaikan ibadah dan dzikrnya kepada Allah akan langsung ditinggalkan. Karena itulah al Hakiim ini biasanya bersifat zuhud (tidak terpengaruh duniawi), wara’ (sangat berhati-hati) dan qana’ah (merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah). Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk persiapan menghadapi kehidupan akhiratnya, dan sedikit sekali, atau bahkan tidak ada, yang digunakan untuk ‘menikmati’ kesenangan duniawi.
Abu Darda RA pernah meminta kepada Nabi SAW agar memberikan wasiat kepadanya, maka beliau bersabda, “Usahakanlah harta yang halal, beramallah yang saleh, mintalah rezeki kepada Allah sehari demi sehari, dan perhitungkanlah dirimu di antara orang-orang yang mati!!”

Note:ni6mq205

Rabu, 10 Desember 2014

Nasehat ke 6, Mencari Ilmu dan Mencari Maksiat

Ali bin Abi Thalib berkata, “Barangsiapa yang mencari ilmu, maka surgalah yang dicarinya. Dan barangsiapa mencari maksiat, maka nerakalah yang dicarinya.”

Nasehat Ali bin Abi Thalib ini sudah sangat jelas, banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an dan juga sabda Nabi SAW yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan orang-orang yang mencari ilmu. Bahkan menuntut ilmu itu merupakan kewajiban (fardhu) yang sangat difardhukan. Nabi SAW bersabda, “Menuntut ilmu itu sangat difardhukan (fariidhatan) atas setiap muslim.”
Beliau juga bersabda, “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan menempuhkan (memudahkan) jalannya ke surga!!”
Dan masih banyak lagi hadits Nabi SAW lainnya.
Tetapi tentunya ‘ilmu’ yang dimaksud adalah ilmu yang mendorong seseorang untuk makin meningkatkan kualitas dan kuantitas ketakwaannya kepada Allah. Kalau dengan ilmu yang dicarinya itu ia hanya ingin menumpuk kekayaan duniawi, kemudian terlena dengan kesenangan duniawi semata hingga melalaikan akhiratnya, maka sama artinya ia tengah merintis jalan ke neraka dengan ilmu yang dicarinya tersebut. Apa yang dimaksudkannya dengan ‘mencari ilmu’, pada dasarnya ia sedang ‘mencari maksiat’ sebagaimana disitir pada nasehat tersebut di atas.
Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang mencari ilmu, yang seharusnya ditujukan untuk mencari keridha’an Allah, ia mempelajarinya tidak untuk itu (mencari ridha Allah) tetapi untuk mendapatkan kedudukan/kekayaan duniawi, maka ia tidak akan mendapatkan baunya surga pada hari kiamat kelak.”
Baunya saja tidak dapat, apalagi memasuki surga. Padahal dalam riwayat lainnya Nabi SAW menjelaskan bahwa baunya surga bisa diendus dari jarak limaratus tahun perjalanan.
Begitu juga, seseorang mencari ilmu seharusnya untuk diamalkan, atau untuk memperbaiki kualitas ibadah yang dilakukannya. Jika ia ‘menumpuk’ ilmu hanya untuk berbangga-banggaan saja, atau untuk memperoleh penghargaan dari masyarakat, tanpa ia sendiri mengamalkannya, maka ia akan memperoleh siksaan yang luar biasa pedihnya pada hari kiamat kelak.
Rasulullah SAW bersabda, “Pada hari kiamat akan didatangkan seorang alim kemudian dimasukkan ke dalam neraka, maka keluarlah isi perutnya lalu ia mengitarinya, sebagaimana keledai mengitari gilingan gandum. Maka para penghuni neraka (yang heran karena mengenalnya sebagai seorang yang alim) mendatanginya dan bertanya, ‘Mengapakah engkau ini?’ Ia menjawab, “Saya memerintahkan kebaikan tetapi saya tidak mengerjakannya. Dan saya melarang keburukan tetapi saya justru menjalankannya’.”

Note:ni6rs2-285iu1-27

Nasehat ke 5, Memikirkan Dunia dan Memikirkan Akhirat

Utsman bin Affan RA berkata, “Bingung memikirkan dunia akan menjadikan hati gelap, sedangkan bingung memikirkan akhirat akan menjadikan hati terang.”

Sebagai mahluk yang dibekali dengan akal, manusia tidak akan lepas dengan apa yang dinamakan proses ‘berfikir’. Tetapi karena manusia juga dibekali dengan nafsu, beberapa filosof menyebutkan bahwa manusia itu adalah ‘binatang’ yang berfikir. Selama masih normal, tidak ada seorang manusia kecuali ia akan selalu ‘berfikir’. Dalam berfikir, seseorang akan dipengaruhi oleh prioritas hidup yang ‘dipilih’-nya, sementara Allah memberikan ‘modal dasar’ yang sama, sebagaimana disitir dalam QS surah Asy-Syams 7-10 : Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Jalan kefasikan (fajir) didorong oleh nafsu, sedangkan jalan ketakwaan didorong oleh hati (qolbu). Nafsu dan hati bisa dikatakan sebagai dua sisi yang berlawanan, nafsu dalam keadaan aslinya, akan selalu menuntut untuk dipenuhi kesenangannya yang sesaat. Jika dibiarkan nafsu menguasai diri seseorang, maka hatinya akan menjadi gelap. Tetapi sebaliknya, jika seseorang mampu ‘mendidik’ nafsunya sehingga menjadi nafsu yang ‘muthmainnah’, maka hati nuraninya (qolbu) menjadi terang benderang, dan akan menjadi pusat kontrol dirinya.
Karena itulah, jika nafsu yang lebih dominan pada diri seseorang, maka proses berfikir dan aktivitas hidupnya akan lebih banyak ditujukan untuk kesenangan duniawiah semata-mata. Sebaliknya, jika hati (qolbu) yang lebih dominan pada diri seseorang, maka proses berfikir dan aktivitas hidupnya akan lebih banyak ditujukan untuk keselamatan dalam kehidupan akhirat. Kalaupun ada aktivitas duniawiahnya, semua itu ditujukan untuk mendukung ‘bekal’ akhiratnya.
Dengan nasehatnya tersebut, sahabat Utsman bin Affan RA tidak bermaksud agar kita ‘meninggalkan’ semua aktivitas kehidupan dunia (pekerjaan, kehidupan sosial, dll). Kita semua tahu bahwa beliau adalah seorang sahabat Nabi SAW yang juga seorang pedagang yang sukses, kalau sekarang bisa dibilang sebagai seorang ‘konglomerat’. Tetapi dengan kesibukannya itu beliau sama sekali tidak melalaikan kehidupan akhiratnya, bahkan sebagian besar harta hasil perdagangannya itu digunakan untuk membantu perjuangan Nabi SAW dan untuk kepentingan masyarakat, sebagaimana sahabat Abdurrahman bin Auf.
Tidak semua orang bisa sukses sebagaimana sahabat Utsman atau Ibnu Auf. Ada juga orang yang sangat ‘disibukkan’ dengan aktivitas duniawiah, padahal hanya untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya saja, itupun terkadang masih kurang, bahkan tidak jarang pulang dengan tangan hampa. Bagi mereka ini, asalkan tidak meninggalkan kewajibannya kepada Allah dan berusaha untuk tidak terjatuh pada jalan yang diharamkan Allah, kesibukannya dalam aktivitas dunia bisa jadi malah meningkatkan derajadnya di akhirat. Kisah berikut ini mungkin bisa memberikan gambaran.
Suatu ketika Ali bin Abi Thalib, yang saat itu menjabat sebagai khalifah, bertemu dengan sahabat Salman al Farisi. Ali menyapanya, “Apa kabar dirimu, wahai Salman?”
Salman berkata, “Wahai Amirul Mukminin, saya sedang memikirkan empat kesusahan yang saya alami!!”
“Kesusahan apa?” Tanya Ali.
Salman berkata, “Kesusahan keluarga karena membutuhkan roti (makanan pokok), kesusahan karena perintah Allah untuk menjalankan taat, kesusahan karena godaan syetan yang selalu mengajak maksiat, dan kesusahan karena akan datangnya malaikat maut untuk mencabut nyawaku!!”      
Reaksi yang diberikan Ali sungguh mengejutkan, “Bergembiralah wahai Abu Abdillah, pada setiap keadaan itu, engkau memiliki derajad (kedudukan utama) di sisi Allah”
Tentu saja Salman kebingungan melihat reaksi sahabat dan menantu Rasulullah SAW itu. Kemudian Ali menceritakan, bahwa ketika Nabi SAW masih hidup, suatu pagi ia bertemu dengan beliau dan beliau bersabda, “Bagaimana pagimu, ya Ali?”
“Wahai Rasulullah,” Kata Ali, “Saya berada dalam kesedihan karena memikirkan empat hal. Saya tidak memiliki apapun (untuk makan) kecuali hanya air, saya sedih dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah (apakah akan diterima?), saya sedih tentang balasan amal (apakah lebih banyak kebaikannya?), dan saya sedih akan datangnya malaikat maut (apakah akan khusnul khotimah?).”
Mendengar jawaban Ali tersebut, dengan tersenyum Nabi SAW bersabda, “Bergembiralah wahai Ali, sesungguhnya kesedihan karena memikirkan keluarga adalah tabir dari neraka, dan kesedihan karena memikirkan ketaatan kepada Allah al Khaliq adalah (kunci) keamananmu dari azab, kesedihan karena memikirkan balasan amal adalah jihad, yang hal itu lebih baik daripada ibadah selama 60 tahun, dan kesedihan karena memikirkan akan datangnya malaikat maut adalah kafarat (pelebur, penebus) dari dosa-dosamu. Ketahuilah, wahai Ali, rezeki Allah kepada hamba-Nya itu tidak karena kesedihan itu. Kesedihan tidak berpengaruh apa-apa (atas pembagian rezeki dari Allah) kecuali semakin menambah pahala. Jadilah orang yang bersyukur dan tawakal, niscaya engkau akan menjadi kekasih Allah!!”
Ali bertanya, “Dengan apa (atas apa)  saya bersyukur kepada Allah?
“Dengan Islam!!”
“Dengan apa saya taat?” Tanya Ali lagi.
“Ucapkanlah : Laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim…!!”
Ali bertanya lagi, “Apa yang harus saya tinggalkan?”
Nabi SAW bersabda lagi, “Tinggalkanlah kemarahan, karena hal itu akan menghilangkan amarah Tuhanmu, memberatkan timbangan amal (kebaikan) dan membawamu ke surga!!”
Mendengar penjelasan Ali tersebut, Salman berkata, “Sungguh saya benar-benar susah memikirkan hal itu, terutama tentang keluarga!!”
Tentu, maksud Salman bukanlah perasaan sedih atau susah karena menyesali keadaannya. Tetapi kesedihan dalam rangka mengharap berbagai kebaikan seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW tersebut. Menjalani hidup dalam kesedihan/kesusahan dengan ikhlas untuk menggapai kegembiraan di akhirat kelak.
Menanggapi ucapan Salman tersebut, Ali berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah bersabda : Barang siapa yang tidak pernah bersedih karena memikirkan keluarganya, ia tidak berhak mendapat surga!!”
Salman menyahuti, “Bukankah Rasulullah SAW juga bersabda : Orang yang memiliki keluarga tidak akan bahagia selamanya??”
“Bukan seperti itu (maksudnya), Salman,” Kata Ali, “Jika pekerjaanmu halal, maka surga akan selalu merindukan orang-orang yang bersedih dan nestapa dalam mencari rezeki yang halal, demi untuk menghidupi keluarganya!!”

Note:ni6mu95

Minggu, 09 November 2014

Nasehat ke 4, Keutamaan Abu Bakar RA dan Umar RA

Nabi SAW bertanya kepada Malaikat Jibril, “Sifatkanlah kepadaku tentang kebaikan Umar?” Jibril berkata, “Andai lautan menjadi tinta dan pohon-pohon menjadi pena (untuk menuliskannya), maka aku tidak akan mampu menghitungnya.” Kemudian Nabi SAW bertanya lagi, “Sekarang sifatkanlah kebaikan Abu Bakar!!” Jibril berkata, “Umar adalah salah satu kebaikan dari beberapa kebaikan Abu Bakar!!”   

Mayoritas para ulama berpendapat, bahwa dari sekian banyak sahabat (jumlahnya lebih dari seratus ribu), dua orang sahabat yang juga mertua Nabi SAW, Abu Bakar ash Shiddiq RA dan Umar bin Khaththab RA, adalah yang terbaik dan paling utama. Suri tauladan yang pertama dan utama tentulah Rasulullah SAW, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an, tetapi siapapun tidak ada yang akan bisa menyamai beliau, baik dari kalangan manusia, jin, bahkan para malaikat muqarrabin sekalipun. Meneladani perilaku dan akhlak para sahabat Nabi SAW, yang mendapat pengajaran dan bimbingan langsung , bisa juga dikatakan telah meneladani beliau.
Nabi SAW pernah bersabda, “Hendaklah kalian mengikuti sunnahku, dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku!!”
Beliau juga bersabda lebih spesifik, “Ikutilah jejak langkah dua orang sesudah wafatku, Abu Bakar dan Umar!!”
Beliau juga pernah bersabda, “Tidak seorang nabi pun, kecuali ia memiliki dua wazir (pembantu) di langit dan dua wazir di bumi. Adapun wazir saya di langit adalah Jibril dan Mikail, sedang wazir saya di bumi adalah Abu Bakar dan Umar.”
Dan masih banyak hadits dan riwayat yang menunjukkan keutamaan mereka berdua, yang tidak mungkin dituliskan secara lengkap di sini.
Tentu saja, sebagaimana disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi SAW, pena tidak akan mampu menuliskan bagaimana kebaikan dua orang sahabat tersebut secara lengkap dan menyeluruh. Sedikit tentang apa dan bagaimana dua orang sahabat tersebut, mungkin bisa dibaca pada alamat blog ini : www.perciksahabatnabi.blogspot.com.
Untuk meringkas bagaimana keutamaan Abu Bakar, Nabi SAW pernah bersabda, "Jika ditimbang keimanan Abu Bakar dengan keimanan seluruh umat, akan lebih berat keimanan Abu Bakar."
Beliau juga pernah menyatakan, bahwa keutamaan Abu Bakar itu bukan karena lebih banyaknya shalat, puasa dan ibadah-ibadah (lahiriah) lainnya, tetapi terlebih karena sesuatu yang di dalam hatinya, yakni keimanan dan keyakinannya. Hal ini senada dengan apa yang disabdakan beliau tersebut di atas.
Akan halnya Umar bin Khaththab, mayoritas dari kaum muslimin akan sangat mengenal keadilan dan kesederhanaannya ketika ia menjadi khulafaur kasyidin yang kedua. Ketika Nabi SAW masih hidup, Umar termasuk sangat kritis dan banyak bertanya tentang sikap dan keputusan Nabi SAW. Ia memang termasuk sahabat yang cerdas dan pemberani, mungkin hal itu yang menyebabkan sikapnya seperti itu kepada Nabi SAW. Tetapi ia mulai berubah ketika ia mendapat ‘teguran keras’ dari Abu Bakar atas sikapnya dalam Perjanjian Hudaibiyah. Abu Bakar berkata kepadanya, “Patuhlah engkau pada perintah dan larangan beliau sampai engkau meninggal dunia, Demi Allah, beliau berada di atas kebenaran."   

Note:ni5tk9sn

Nasehat ke 3, Masuk ke Kubur (Mati) Tanpa Bekal

Abu Bakar Ash-Shiddiq RA berkata, “Barangsiapa yang masuk ke kubur tanpa membawa bekal, maka seolah-olah ia mengarungi lautan tanpa bahtera.”

Walaupun alam kubur itu sifatnya ghaib, tidak dapat dilihat dan dirasakan dengan panca indra, tetapi hampir tidak ada dari kita yang tidak mempercayai keberadaannya. Alam kubur bisa dikatakan sebagai ‘tempat persinggahan’ sebelum alam dunia ini digantikan dengan alam akhirat setelah terjadinya kiamat kelak. Karena itulah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA menasehatkan agar kita mempunyai bekal ketika akan masuk alam kubur. Kalau kita mati tanpa membawa amal kebaikan, digambarkan beliau, seolah-olah kita mengarungi lautan tanpa bahtera.
Apa yang dinasehatkan Abu Bakar tersebut sejalan dengan apa yang disabdakan Nabi SAW, “Tidaklah mayit itu di dalam kuburnya, kecuali seperti orang yang tenggelam yang minta pertolongan!!”
Sekarang ini, dimana materialisme, konsumerisme dan hedonisme menjadi tolok ukur kehidupan, seolah-olah alam kubur itu diabaikan, walau tampak begitu ‘nyata’ di depan mata. Banyak di antara kita yang mengiring jenazah ke kubur, tetapi sama sekali tidak ‘merasa’ bahwa suatu saat kitalah yang ‘diusung’ dalam keranda dan diuruk dalam tanah, sendirian saja, lalu akan dibangunkan kembali untuk menghadapi pertanyaan kubur oleh malaikat Munkar dan Nakir. Tidak masalah jika kita mempunyai bekal amal kebaikan yang cukup, jika tidak bagaimana nasib kita di alam kubur?
Utsman bin Affan RA, sahabat dan juga menantu Rasulullah SAW, ketika ia menjadi khalifah selalu saja menangis ketika ada orang-orang yang menyebutkan sifat dan keadaan alam kubur, padahal ketika disebutkan sifat neraka dan kesengsaraan di yaumul makhsyar (kiamat), beliau tidak sampai menangis. Pernah salah seorang sahabat menanyakan hal itu, maka beliau berkata, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi SAW bersabda, bahwa alam kubur itu adalah pos (manzilah) pertama dari pos-pos (manazil) akhirat. Kalau seseorang selamat pada pos pertama itu (yakni di alam kubur), maka pos berikutnya akan lebih mudah daripadanya. Tetapi kalau ia tidak selamat di alam kubur itu, maka pos berikutnya akan lebih berat daripadanya!!”
Dalam riwayat lain disebutkan, Utsman berkata, “Bila aku berada di neraka, aku masih bersama manusia, begitu juga ketika aku harus menghadapi kesengsaraan di alam makhsyar. Tetapi ketika di alam kubur, aku hanya sendirian saja, tidak seorangpun yang menemani diriku…!!”
Sesungguhnyalah kekhawatiran beliau itu sangat tidak beralasan, karena amal kebaikan yang dijalankan dan shadaqah yang pernah dikeluarkan sudah lebih dari cukup untuk bekal di alam kuburnya, bahkan beliau salah satu dari 10 sahabat yang telah dijamin masuk surga. Setelah infaq yang beliau keluarkan untuk Perang Tabuk (Jaisyul ‘Usra), Nabi SAW bersabda, “Tidak ada yang membahayakan Utsman karena apa yang dilakukannya (diinfaqkannya) setelah hari ini!!”
Walau hanya persinggahan, di dalam kubur juga terdapat siksa dan nikmat kubur, tergantung bagaimana amal yang dilakukan sang jenazah ketika di dunia. Mereka yang amal kebaikannya hanya sedikit atau tidak ada sama sekali, mereka inilah yang digambarkan oleh Abu Bakar seperti orang yang mengarungi samudra tanpa bahtera, atau digambarkan Nabi SAW seperti orang yang tenggelam membutuhkan pertolongan. Bisa dibayangkan bagaimana berat dan sulitnya keadaan yang dihadapi oleh orang yang seperti itu. Kalau tidak karena pertolongan Allah, tentulah mereka ini tidak akan bisa selamat, kesengsaraan dan siksaan yang berat akan terus dialaminya di alam kubur hingga tibanya hari kiamat. Naudzubillahi min dzaalik!!
Nabi SAW bersabda, bahwa bila jenazah seorang mukmin dimasukkan ke dalam kubur (dan telah ditutupi/diuruki dengan tanah), maka datanglah dua malaikat penanya kubur, mereka mendudukkan mayat tersebut, dan sesungguhnya ia masih bisa mendengar suara sandal para pengantarnya meninggalkan pemakaman. Dua malaikat itu bertanya kepadanya, “Siapakah Tuhanmu, apa agamamu, dan siapa Nabimu?”
Ia akan berkata, “Allah Tuhanku, Islam agamaku, dan Muhammad Nabiku!!”
Dua malaikat itu berkata, “Allah meneguhkan dirimu, tidurlah dengan penuh sukacita!!”
Nabi SAW bersabda menjelaskan, “Itulah maksud dari firman Allah : Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh di dunia dan di akhirat (QS Ibrahim 27). Yakni, meneguhkan (orang mukmin) dengan ucapan yang benar (haqq), dan akan menyesatkan orang-orang yang menganiaya diri sendiri, yakni kaum kafirin dan dholimin, tidak memberikan pertolongan untuk bisa mengucapkan perkataan yang haqq..!!”
Dan ketika jenazah orang yang kafir atau munafik dimasukkan ke dalam kubur, dua malaikat itu akan bertanya , “Siapa Tuhanmu, apa agamamu, dan siapa Nabimu?”
Ia akan menjawab, “Aku tidak tahu!!”
“Engkau tidak tahu??” Kata dua malaikat itu, kemudian ia dipukul dengan batang besi, sehingga ia berteriak sangat kerasnya, dengan teriakan yang bisa didengar oleh semua mahluk di dunia, kecuali jin dan manusia.
Ada beberapa riwayat senada dengan penjabaran yang lebih lengkap, yakni ketika hamba mukmin sakaratul maut, beberapa malaikat menjemput dengan membawa kain sutera halus dan minyak wangi, untuk membawa nyawanya menghadap Allah. Para malaikat di setiap lapisan langit menyambut dan memuji-mujinya, dan setelah Allah menetapkan tempatnya di (surga) Illiyyin, ia dibawa kembali ke bumi, yakni ke kuburnya, kemudian bertemu dengan malaikat Munkar Nakir. Karena jawabannya benar, kuburnya diluaskan dan ditampakkan hamparan surga yang penuh kenikmatan. Kemudian datang seorang lelaki tampan dan berbau harum, yang ketika ditanya, ia menjawab, “Aku adalah amal salehmu selama di dunia!!”
Jika yang meninggal hamba yang kafir atau dholim, ketika sakaratul maut, beberapa malaikat berwajah hitam menakutkan menjemput, dengan membawa suatu cairan. Nyawa keluar dengan cara yang sangat menyakitkan. Malaikat mencelup nyawanya ke dalam cairan yang dibawanya sehingga baunya seperti bangkai yang busuk. Dan ketika dibawa naik, pintu langit tidak ada yang terbuka, dan turunlah ketentuan Allah bahwa ia tempatnya adalah di (neraka) Sijjin. Setelah itu nyawanya dilemparkan ke bumi, yakni ke kuburnya, kemudian bertemu dengan malaikat Munkar Nakir. Karena jawabannya tidak benar, kuburnya disempitkan dan ditampakkan kepadanya hamparan neraka, sehingga ia merasakan panas dan kesengsaraannya sebelum ia akan memasukinya nanti. Kemudian datang seorang lelaki jelek, berbaju jelek dan berbau sangat busuk, yang ketika ditanya, ia menjawab, “Aku adalah amal jelekmu selama di dunia!!”
Wallahu A’lam.